alexametrics

Asap Tipis Muncul Dari Kawah Semeru, Ini Penyebabnya

Yuswantoro

MALANG - Sejak pagi hari, puncak Gunung Semeru nampak mengeluarkan asap putih yang membumbung tinggi di angkasa. Bahkan, asap putih tersebut terlihat hingga di Kota Malang.

Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak panik dengan kondisi tersebut. Asap putih yang membumbung tinggi tersebut, bukan dipicu oleh adanya aktivitas vulkanik.

Menurut Kepala Pos Pengamatan Gunung Sawur di Candipuro, Lumajang, Liswanto, asap putih tersebut merupakan uap air yang ditimbulkan dari air hujan yang jatuh dan menggenang di bibir kawah.



Dia menyebutkan, kondisi curah hujan di kawasan puncak Gunung Semeru sangat tinggi, sehingga air yang jatuh di permukaan kawah menimbulkan asap putih. "Kalau kondisi aktivitas vulkaniknya tetap normal seperti biasanya," tuturnya.

Hingga saat ini status Gunung Semeru tetap berada di Level II atau waspada. Sehingga masyarakat diminta untuk tetap tenang dan waspada dengan mematuhi larangan batasan mendekati kawasan kawah gunung tertinggi di Pulau Jawa Tersebut.

Batas aman untuk beraktivitas di Gunung Semeru, yakni sejauh 4 km dari kawah aktif Jonggring Saloko, yang ada di sisi selatan. Mengingat, sisi selatan tersebut merupakan daerah luncuran awan panas dan material vulkanik.

Berdasarkan data vulkanik Gunung Semeru, hingga Senin (17/2/2020) pukul 24.00 WIB, statusnya tetap berada di level II atau waspada. Saat visual gunung jelas, akan teramati sinar api pada kawah aktif di malam hari.

Letusan terjadi sebanyak satu kali dengan amplitudo 10 milimeter (mm) dengan durasi 51 detik. Terjadi juga 6 kali gempa guguran dengan durasi 40-57 detik, dan sebanyak 2 kali gempa embusan dengan durasi 21-27 detik. Teramati juga ada satu kali gempa tektonik jauh, beramplitudo 28 mm dengan durasi 65 detik.

Selama ini masyarakat juga telah diimbau untuk lebih waspada terhadap bahaya sekunder dari Gunung Semeru, utamanya saat musim penghujan. Mengingat material vulkanik menumpuk di puncak.

Sewaktu-waktu material vulkanik tersebut bisa meluncur ke bawah, melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di kawasan Gunung Semeru, akibat adanya hujan deras di kawasan puncak.

Menurut Liswanto, sejak tahun 2010, di kawah Jonggring Seloko yang merupakan kawah termuda Gunung Semeru, terus mengalami fase pembentukan kubah lava. Saat ini material vulkanik yang terbentuk sejak tahun 2010 tersebut, diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 juta meter kubik.

"Pada awal pemantauan yang kami lakukan tahun 2010, baru terbentuk kubah lava sekitar 5 meter kubik. Kubah lava tersebut terus tumbuh, dan tahun 2017 kami amati sudah mencapai sekitar 100 juta meter kubik," tuturnya.

Asap Tipis Muncul Dari Kawah Semeru, Ini Penyebabnya

Material vulkanik ini kondisinya labil, sehingga ketika terjadi dorongan energi dari dalam kawah gunung, atau terkena gerusan air hujan dengan intensitas tinggi, bisa runtuh dan meluncur ke bawah menjadi lahar hujan.

Selain lahar hujan, bahaya bencana skunder yang perlu diwaspadai dari Gunung Semeru, menurut Liswanto adalah semburan material vulkanik yang dipicu oleh dorongan energi dari dalam kawah.

"Material vulkanik ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang, karena sebaran material vulkaniknya berada di kawasan jalur penerbangan. Ini yang selalu kami pantau dan waspadai, demi keselamatan penerbangan," ungkapnya.

Pria yang sudah 25 tahun bertugas mengamati gunung api tersebut menjelaskan, keberadaan tumpukan material vulkanik di sekitar kawah tersebut bisa juga menimbulkan sumbatan pada saluran magma dari dalam kawah.

"Apabila terjadi sumbatan dan ada dorongan energi yang besar dari dalam kawah, dikawatirkan akan memicu munculnya pergerakan magma menembus celah batuan yang lebih muda di sekitar kawah," terang pria asli Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Dia menyebutkan, dalam sejarahnya kawah Gunung Semeru terus berpindah-pindah. Pada awalnya, kawah berada di wilayah Ayeg-ayeg, lalu Kalimati, terus berpindah ke Mahameru, dan saat ini berada di Jonggring Seloko.

Periode perpindahannya, diakuinya belum pernah diketahui berapa ratus tahun terjadinya. Yang pasti, kawah Jonggring Salaka sebagai kawah termuda usianya sudah mencapai ratusan tahun.

Pada tahun 1941, dia menyebutkan, sempat terjadi letusan magma di kawah baru, yang dikenal masyarakat sebagai Kawah Kemerling. Letusan magma ini terjadi di bawah Kawah Jonggring Seloko, dan berjarak sekitar 4 km dari permukiman warga.

Potensi bahaya bencana alam lainnya dari Gunung Semeru, yang memiliki tipe letusan stombolian dengan kubah lava tersebut, menurut Liswanto adalah adanya guguran awan panas dari puncak gunung. "Tahun 1994 luncuran awan panas mencapai 14 km dari puncak, sementara tahun 2006 mencapai sejauh 4 km dari puncak," ungkapnya.

Sementara Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Mohammad Wawan Hadi Siswoyo, mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dengan apapun kondisi yang terjadi di Gunung Semeru.

"Masyarakat harus tetap waspada. Salah satunya dengan mematuhi batas aman untuk beraktivitas di wilayah selatan Gunung Semeru. Yakni, maksimal berada di radius 4 km dari kawah aktif," tegasnya.



(eyt)