alexametrics

Atasi Puncak Pandemi Covid-19, ITS Usulkan Ruang Isolasi Modular

Aan Haryono

SURABAYA - Puncak pandemi virus Corona (Covid-19) diperkirakan terjadi pada Mei mendatang. Pusat Kajian Kebijakan Publik Bisnis dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PKKPBI ITS) mengirimkan rekomendasi kepada Pemprov Jatim untuk segera mempersiapkan kebutuhan medis dalam menghadapi puncak pandemi Covid-19 nantinya.

Kepala PKKPBI ITS, Arman Hakim Nasution menuturkan, berdasarkan data yang telah diolah dari Command Centre BUMN bahwa diperkirakan puncak pandemi Covid-19 akan terjadi di minggu pertama dan kedua Mei 2020. "Kami memberikan rekomendasi bagi Pemprov Jawa Timur untuk segera mempersiapkan hal ini dengan sebaik-baiknya dan secepatnya," ujar Arman, Minggu (29/3/2020)

Dosen Departemen Manajemen Bisnis ini menambahkan, rekomendasi yang diberikan ITS mencakup dua poin yang menjadi perhatian khusus. Poin pertama adalah mempersiapkan rumah sakit beserta tenaga medisnya untuk menampung pasien positif Covid-19 nantinya. "Hal ini untuk mencegah terjadinya keterbatasan ruang perawatan bagi pasien," ucapnya.



Arman menguraikan bahwa ITS memberikan beberapa usulan berupa mitigasi yang bisa dilakukan Pemprov Jawa Timur untuk menghadapi puncak pandemi Covid-19 nantinya. Usulan yang pertama adalah mengubah fungsi lahan terbuka perkantoran milik pemerintah yang berdekatan dengan rumah sakit menjadi Unit Gawat Darurat (UGD) sementara. "Adapun UGD tersebut akan menggunakan ruang isolasi modular atau yang bisa dibongkar pasang," jelasnya.

ITS juga memberikan usulan kedua untuk mengintegrasikan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dengan rumah sakit milik swasta. Integrasi ini menggunakan sistem Bawah Kendali Operasi (BKO) yang bertujuan untuk mengontrol dan mendistribusikan sumber daya kesehatan, seperti obat-obatan, ambulans, tenaga kesehatan, serta Alat Pelindung Diri (APD) di setiap rumah sakit di Jawa Timur.

"Tentunya untuk jumlah rumah sakit yang akan diintegrasikan perlu pendataan dari Pemprov Jawa Timur terlebih dahulu," ucapnya.

Usulan yang ketiga adalah membentuk pusat komando penanganan Covid-19 berskala provinsi. Pusat komando ini berfungsi untuk mengintegrasikan kebutuhan medis dari Pemerintah Pusat kepada Pemprov Jawa Timur dan melakukan pemantauan jumlah tenaga medis beserta pasien positif Covid-19 di setiap daerah.

Selain mempersiapkan rumah sakit beserta tenaga medisnya, Pemprov Jawa Timur juga harus memastikan persediaan APD untuk tenaga medis dan ventilator bagi setiap pasien positif Covid-19. Hal ini merupakan poin kedua dari rekomendasi ITS. "Poin ini merupakan hal yang terpenting demi memudahkan tenaga medis dalam menjalankan tugasnya," sahut Arman.

Menurut Arman, ITS telah berusaha untuk memberikan kontribusi berupa desain bentuk fasilitas ruang isolasi modular. Selain itu, ITS juga melakukan produksi Alat Pelindung Diri (APD) yang dirancang oleh Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS sebanyak 300 unit produksi per hari. Namun, diperlukan langkah semi industri untuk diproduksi secara massal. "Adapun saat ini pesanannya telah mencapai 126 ribu, namun hanya tersisa satu bulan saja untuk menghadapi puncak pandemi ini," terangnya.

Sama halnya dengan APD, ITS juga sudah mempersiapkan purwarupa ventilator yang akan diuji oleh tim dokter dari Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). Jika lolos tes uji tersebut, ITS akan melakukan produksi massal dengan melibatkan beberapa industri yang berkaitan. "Contohnya di Amerika yang menggunakan industri otomotif yang dialihkan untuk memproduksi ventilator," kata Arman.

ITS berharap Pemprov Jawa Timur dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi dan perusahaan manufaktur untuk melakukan produksi ruang isolasi modular, APD, maupun ventilator dengan biaya murah, tetapi aman secara teknis. "Seharusnya proses produksi ini paling lambat dilakukan pada pertengahan April," tambahnya.



(eyt)