alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Hasil Forensik, Menjadi Penentu Kasus Hukum yang Menjerat Sugeng

Yuswantoro
Hasil Forensik, Menjadi Penentu Kasus Hukum yang Menjerat Sugeng
Tersangka kasus mutilasi, Sugeng (49) dibawa oleh tim penyidik Polres Malang Kota, ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lantai dua Pasar Besar Malang. Foto/SINDOnews/Yuswantoro

MALANG - Penyelidikan untuk mengungkap kasus mutilasi sadis terhadap seorang wanita berusia sekitar 34 tahun, membutuhkan kecermatan dan kejelian dari tim penyelidik.

Kecermatan dan kejelian ini, akan menentukan pasal yang bakal digunakan untuk menjerat tersangka. Berdasarkan keterangan tersangka kepada polisi, mutilasi itu dilakukan tiga hari setelah korban meninggal dunia.

(Baca juga: Ada Perbedaan Keterangan Tersangka Sugeng, dengan Fakta di TKP?)



Korban menurut pengakuan tersangka, sudah dalam kondisi sakit-sakitan, setelah itu meninggal dunia di Pasar Besar Malang (PBM). Mutilasi yang dilakukan tersangka, juga atas wasiat yang disampaikan korban.

Melihat kondisi tersebut, menurut kriminolog Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prija Djatmika, harus dicermati dengan seksama. Mengingat, apabila tersangka memutilasi korban yang sebelumnya sudah meninggal dunia, maka tidak bisa dikenai pasal tentang pembunuhan.

"Kalau korbannya sudah meninggal terlebih dahulu, dan baru kemudian dimutilasi oleh pelaku. Maka pelaku akan dikenakan pasal 181 KUHP, yakni menyembunyikan atau menghilangkan jenazah dengan maksut menyembunyikan kematian," tuturnya.

Pasal 181 KUHP hukumannya sangat ringan. Yakni, pelaku hanya akan dikenakan hukuman pidana maksimal selama sembilan bulan penjara, dan denda maksimal sebesar Rp4.500.

Sementara, apabila terbukti melakukan pembunuhan terlebih dahulu sebelum melakukan mutilasi, pelakunya bisa dijerat dengan pasal 336, 337, 338, 339, dan 340 KUHP tentang pembunuhan, dan ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara.

"Sah-sah saja pelaku membuat alibi-alibi untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi, dengan membuat cerita yang berbeda dengan faktanya. Tetapi, fakta hukum juga bisa melihat dari hasil laboratorium forensik," ungkapnya.

Akademisi yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Hukum UB Malang tersebut, menegaskan, dalam kasus ini yang akan sangat menentukan adalah hasil dari laboratorium forensik, karena akan diketahui korban tewas dimutilasi atau setelah mati baru dimutilasi.

Kejiwaan pelaku juga harus diperiksa secara medis. Mengingat, gangguaan psikologis seperti psikopat, berbada dengan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). "Psikopat bukan ODGJ, tetapi punya kebiasaan menyimpang berupa kejam dan tega melakukan tindakan seperti mutilasi," tuturnya.

Kondisi ini harus dicermati, sehingga dalam menangani kasus Sugeng ini tidak sampai salah, yang bisa beresiko terulangnya kembali kasus serupa di tengah masyarakat.

Menurutnya, harus ada peran pemerintah dalam menangani kasus ini. Apabila polisi sudah merekomendasikan untuk dilakukan rehabilitasi psikologis terhadap pelaku, tentunya harus ada pendampingan dari pemerintah secara serius, seperti penanganan ODGJ dan gelandangan.

(Baca juga: Sugeng Tersangka Mutilasi Dibawa ke Pasar Besar Malang, Ada Apa?)

Sementara itu, Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri mengaku, kasus mutilasi tersebut masih dalam proses penyelidikan, dan belum mengarah untuk mengkonfrontir keterangan tersangka dengan fakta-fakta yang ditemukan dari hasil forensik.

"Kami masih mendalami kasus ini. Tetapi kami belum mengarah ke sana (Mencocokkan data hasil forensik dengan keterangan yang disampaikan oleh tersangka)," ujar Asfuri saat dihubungi SINDOnews.com melalui sambungan telepon selulernya.

Terkait kejiwaan tersangka, dia mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan dari tim psikolog dan kesehatan. "Pemeriksaan psikologi dan kesehatan terhadap tersangka, akan dilakukan sore ini," pungkas Asfuri, Kamis (16/5/2019).

Persoalan kejiwaan Sugeng, tentunya menjadi perhatian serius. Mengingat, ada sejumlah fakta bahwa dia pernah melakukan kekerasan dengan melukai lidah pacarnya memakai silet, dan banyak ditemukan tulisan tentang pesan kemarahan serta ancaman.



(eyt)

loading...