alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Baju Bekas Masih Jadi Idola di Pasar Murah Ramadhan

Yuswantoro
Baju Bekas Masih Jadi Idola di Pasar Murah Ramadhan
Ratusan orang berebut memilih baju bekas layak pakai, yang dijual murah dengan harga Rp1.000-2.000/potong di Pasar Ramadhan, yang digelar Pemkot Malang. Foto/SINDOnews/Yuswantoro

MALANG - Tumpukan baju bekas layak pakai, ramai dikerubuti masyarakat yang datang di pembukaan Pasar Ramadhan yang digelar di area parkir Stadion Gajayana, Kota Malang.

Belasan karung berisi baju bekas layak pakai, yang disediakan di stan Dharmawanita Persatuan Kota Malang, dan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Malang, langsung ludes dibeli pengunjung.

Baju-baju bekas tersebut, dijual dengan harga bervariatif. Paling murah seharga Rp1.000-2.000/potong. Selain itu, juga ada yang harganya berkisar Rp30 ribu/potong.



Ketua Bidan Ekonomi GOW Kota Malang, Wuwuh Kanti Utami mengatakan, baju-baju bekas layak pakai ini merupakan sumbangan dari para anggota, hasil penjualannya akan disumbangkan ke panti-panti sosial.

"Dari pada diberikan ke panti asuhan dalam bentu baju bekas layak pakai, lebih baik kami berikan sumbangannya dalam bentuk uang, sehingga bisa dimanfaatkan untuk banyak kebutuhan. Kalau baju bekas, belum tentu di panti-panti dibutuhkan," ujarnya.

Pada pasar murah tahun lalu, GOW Kota Malang, bisa meraup Rp6 juta dari hasil penjualan baju bekas layak pakai tersebut, dan semuanya disumbangkan ke panti sosial yang ada di wilayah Kota Malang.

Baju Bekas Masih Jadi Idola di Pasar Murah Ramadhan

Salah satu pengunjung pasar murah Ramadhan, Asmia (50) mengaku, sangat senang bisa membeli baju bekas layak pakai di pasar murah ini, karena harganya sangat murah dan kualitasnya masih sangat bagus.

"Saya beli buat oleh-oleh anak, keponakan, dan cucu. Mumpung harganya di sini murah-murah dan bagus-bagus," ujar wanita asal Kabupaten Bondowoso, tersebut.

Pemkot Malang, menggelar Pasar Ramadhan ini selama dua hari, yakni Senin (27/5/2019), dan Selasa (28/5/2019). Ada sebanyak 53 peserta yang mengikuti pasar murah ini.

Selain penjualan paket kebutuhan pokok murah, juga ada layanan penukaran uang baru, penjualan produk urban farming, penjualan paket lebaran, pelayanan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, serta pelayanan kesehatan gratis.

Kepala Bagian Pengembangan Perekonomian Pemkot Malang, Rinawati menuturkan bahwa tujuan diadakannya pasar ini adalah membantu masyarakat, untuk mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau pada momen bulan puasa dan mendekati Idul Fitri 1440 H.

"Pasar Murah Ramadhan ini juga dilakukan untuk mengendalikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok di pasar, sehingga tidak terjadi kelangkaan yang berimbas pada naiknya harga kebutuhan pokok," kata Rinawati.

Baju Bekas Masih Jadi Idola di Pasar Murah Ramadhan

Dijelaskan, 53 peserta itu terdiri dari berbagai elemen dan pemangku kebijakan yang meliputi distributor bahan pangan, pelaku usaha, Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Malang, BUMD Kota Malang, Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Perbankan Kota Malang, BUMN Bulog Sub Divre VII Malang, serta organisasi sosial kemasyarakatan.

"Kami menghimbau kepada masyarakat untuk datang dan memanfaatkan kesempatan pasar murah ini, dalam memenuhi kebutuhan pokok saat Lebaran nanti," ucap Rinawati.

Data Bagian Pengembangan Perekonomian Kota Malang menyebut, Pasar Murah Ramadhan yang digelar setiap tahun selalu membawa dampak positif kepada masyarakat, dan juga peserta yang turut serta.

Tercatat di tahun 2016 pasar murah diikuti oleh sebanyak 28 peserta dengan omzet sebesar Rp396,8 juta. Di tahun 2017, dengan jumlah peserta yang sama mencapai omzet sebesar Rp305 juta, dan di tahun 2018 dengan 58 peserta dapat mencapai omzet sebesar Rp617 juta.

Sementara itu, Wali Kota Malang, Sutiaji dalam sambutan pembukaan mengatakan bahwa kegiatan ini selain dalam rangka untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka, juga untuk menekan inflasi.

"Karena biasanya pada saat menjelang Idul Fitri tingkat inflasi akan lebih tinggi, hal tersebut disebabkan oleh kecenderungan masyarakat yang lebih konsumtif," ujar Sutiaji.

Selain itu, lanjut Sutiaji, kegiatan ini juga dilaksanakan untuk mengontrol harga di pasaran, sehingga tidak terjadi kenaikan harga yang signifikan akibat dari tingginya permintaan dari masyarakat.



(eyt)

loading...