alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Karakter Dewa Kwan Kong Inspirasi Tas Totehi Karya Alumni Ubaya

Ali Masduki
Karakter Dewa Kwan Kong Inspirasi Tas Totehi Karya Alumni Ubaya
Shindy Arista menceritakan proses pembuatan dan sejarah karyanya, di Selasar Gedung Hubungan Internasional, Kampus Ubaya. Foto/SINDOnews/Ali Masduki

SURABAYA - Alumni Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) Shindy Arista, menciptakan karya bernama Totehi, kependakan dari Totebag Potehi.

Totehi merupakan kreasi tas berbahan dasar kain jeans navy yang dikreasikan dengan teknik lukisan. Karya yang terinspirasi karakter Wayang Potehi Dewa Kwan Kong (Guan Yu) ini untuk mengajak anak muda berlaku jujur dan setia.

Berbeda dengan totebag pada umumnya, karya gadis 21 tahun ini kaya akan muatan sejarah budaya dan pesan yang ditujukan kepada masyarakat. Pesan yang disampaikan dilukis menggunakan stilasi dan deformasi dari karakter Wayang Potehi Dewa Kwan Kong (Guan Yu).



Wayang Potehi merupakan salah satu jenis wayang khas Tionghoa, yang dibawa oleh perantau etnis Tionghoa ke Nusantara, dan kini menjadi salah satu jenis kesenian tradisional di Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Shindy menuturkan, pemilihan Karakter Dewa Kwan Kong (Guan Yu) dengan sejarah kehidupannya sebagai seorang panglima perang yang dipuja karena kejujuran, dan kesetiaannya menginspirasi untuk membuat karya Totehi.

"Dewa Kwan Kong (Guan Yu) merupakan lambang kesatria sejati yang patut dicontoh untuk penerus generasi bangsa yang akan menjadi pemimpin Indonesia agar selalu menepati janji dan berlaku setia pada sumpahnya," kata dia.

Gadis asli Kota Pahlawan ini mengatakan, terpilihnya pemimpin Indonesia membuatnya ingin menyampaikan pesan kepada anak muda agar tidak mudah terbawa emosi dan tidak ikut-ikutan anarkis yang mampu memecah persatuan Indonesia.

"Saya ingin mengajak anak muda bisa meneladani karakter Dewa Kwan Kong yang jujur dan setia dengan janjinya sebagai kesatria serta mencontoh Dewa Kwan Kong sebagai Dewa Pelindung Rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan," ujarnya.

Alumni SMAK St Louis 1 Surabaya ini menjelaskan, proses pembuatan karyanya memakan waktu kurang lebih satu minggu dengan pewarnaan menggunakan cat akrilik pada sketsa gambar sebanyak empat hingga lima kali pengulangan cat karakter Dewa Kwan Kong.

Terdapat empat motif wajah karakter Dewa Kwan Kong yang dikreasikan dengan warna merah muda, biru, dan tosca. Warna yang dipilih merupakan warna favorit anak muda dengan rentang usia 18-25 tahun yang menjadi target pasar Totehi.

Totehi dengan motif seperti burung merupakan deformasi yang menonjolkan sifat Dewa Kwan Kong yang setia, jujur, dan teladan. Sifat-sifat tersebut disimbolkan dengan burung merpati.

Sedangkan tiga Totehi yang lain menggunakan stilasi dengan menyederhanakan bentuk tanpa meninggalkan unsur penting Dewa Kwan Kong, seperti adanya bentuk alis dan topi.

Ukuran tasnya adalah 32 × 40 × 5 cm, yang berfungsi sebagai tas kuliah, tas belanjaan, dan tas laptop yang terlihat chic dan stylish dengan bahan dasar jeans.  

Bagi kawula muda yang tertarik dengan karya Totehi, Shindy bersama dua temannya sedang mengembangkan peluang bisnis tas dengan nama usaha Magnie.co. Magnie berasal dari kata magnieficient yang artinya indah atau cantik.

Satu buah Totehi dibanderol dengan harga sebesar Rp300 ribu. Promosi dan varian tas untuk pemesanan dapat dilihat melalui media sosial Instagram Magnie.co.

"Saya berharap dengan adanya karya Totehi, anak muda bisa mengenal kesenian Wayang Potehi sekaligus mengajak anak muda melestarikan budaya di Indonesia," ujarnya.

Kepala Program Studi Desain Produk FIK Ubaya sekaligus Dosen Pengampu Mata Kuliah Ragam Hias, Wyna Herdiana mengungkapkan, awal proses pembuatan tas dengan karakter Wayang Potehi dimulai dari tugas mata kuliah Ragam Hias dengan mengunjungi Museum Gubug Wayang di Mojokerto.

Shindy bersama mahasiswa yang lain dibagi menjadi beberapa tim untuk membuat karya produk dengan memilih tema wayang tertentu. Pemilihan karakter wayang tidak ditentukan oleh dosen. Mahasiswa memilih karakter wayang dan membuat inovasi produk berdasarkan kreativitas kelompok yang dapat digunakan oleh masyarakat sehari-hari.

"Banyak mahasiswa yang tertarik pada bidang budaya yang akhirnya masuk mata kuliah Ragam Hias. Sebelum mendatangi Museum Gubug Wayang, saya juga mengajak mahasiswa mengunjungi candi-candi dan peninggalan sejarah yang ada di Malang, Mojokerto, dan tempat lain. Di sana mereka akan menganalisa dan mencari literatur untuk pembuatan produk mereka," pungkasnya.



(eyt)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif