alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Syafruddin Temenggung Bebas, Ini Tanggapan Ketua Umum DPP IPHI

Lukman Hakim
Syafruddin Temenggung Bebas, Ini Tanggapan Ketua Umum DPP IPHI
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (DPP-IPHI) Rahmat Santoso SH MH. Foto/Istimewa

SURABAYA - Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (DPP-IPHI) Rahmat Santoso SH MH angkat bicara terkait putusan Mahkamah Agung (MA) yang membebaskan Syafruddin Arsyad Temenggung.

Menurut Rahmat Santoso, keputusan MA yang mengabulkan permohonan kasasi mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Temenggung yang sebelumnya divonis 15 tahun itu harus dicermati lebih dalam bukan sekadar berpolemik di media massa.

“Konsep keadilan sendiri sebenarnya bukanlah ide monolitik. Tetapi mengandung banyak dimensi yang saat ini diabaikan untuk kepentingan golongan tertentu,” kata Rahmat, Minggu (14/7/2019).



Konsep keadilan digambarkan Rahmat dengan menceritakan kisah perebutan satu seruling oleh tig anak yang ditulis Amartya Sen, filosofis dan pemenang hadiah nobel, dalam bukunya “The Idea of Justice” (2009).

Buku tersebut merupakan kritik dan revisi terhadap ide-ide John Rawls yang tertuang dalam buku “A Theory of Justice” (1971).

Diceritakan Rahmat, tiga anak ini, yaitu Budi berargumen seruling tersebut harus diberikan kepadanya. Sebab, keadaannya miskin dan tidak memiliki satu mainan pun. Satu anak lagi, Wati berargumen seruling tersebut miliknya karena dialah pembuatnya. Terakhir, Safira berargumen dialah yang paling berhak. Sebab, dia satu-satunya yang dapat memainkan seruling.

“Lantas siapa yang berhak untuk memperoleh seruling tersebut? Tentu sangat bergantung pada rasa keadilan Anda,” ucap Rahmat.

Pendukung ekonomi egaliter, lanjut Rahmat, yang menyandarkan pada prinsip kesetaraan akan memilih Budi sebagai pemilik seruling. Bagi kaum libertarian yang mengutamakan kebebasan dan hak-hak individu, akan mendukung Wati selaku pemilik hak kekayaan intelektual atas seruling tersebut. “Tapi kalau pengikut Jeremy Bentham, berkaitan teori utilitas dan kebahagiaan terbanyak akan mendukung Safira, dikarenakan manfaat suara indah yang dapat dinikmati oleh banyak orang,” cerita Rahmat Santoso.

Dari narasi kisah Amartya Sen itu, sambung Rahmat, kepolisian mungkin punya memiliki perasaan adil jika seseorang yang telah dijadikan tersangka menjadi terdakwa. Kejaksaaan merasa adil jika seseorang terdakwa menjadi terpidana. “Sebaliknya tersangka, terdakwa ataupun terpidana maupun keluarganya sebenarnya juga tetap berhak memperoleh keadilan terkait kejadian yang sebenar-benarnya terjadi,” kata dia.

Terkait kasus Syafruddin Temenggung, Rahmat mengatakan jika kasus tersebut
bukan disidik oleh KPK, tentu tidak akan banyak pihak yang tertarik mempertanyakan putusan bebasnya.

“Dulu juga terjadi pada Putusan Praperadilan yang mengabulkan perihal tidak sahnya penetapan tersangka terhadap kasus Budi Gunawan oleh KPK yang dinilai menerobos pakem praktik praperadilan selama ini,” kata dia.

Saat ini, tidak ada seorangpun yang menanyakan dan mencoba meneliti, apa benar dan adil seorang Syafruddin Temenggung yang telah melaksanakan tugasnya sesuai peraturan yang berlaku selaku Ketua BPPN untuk dijatuhi hukuman oleh MA.

Benar atau salah terkait isi Putusan Pengadilan Syafruddin Temenggung, merupakan pertanggungjawaban Majelis Hakim terhadap amanah jabatan yang diembannya.

“Saya tidak mengenal saudara Syafruddin Temenggung. Namun satu yang pasti, semua orang berhak untuk memperoleh keadilan. Tidak semua yang berlabel tersangka, terdakwa dan bahkan terpidana 100% sudah pasti bersalah,”
pungkas dia.

Diketahui, Syafruddin Arsyad Temenggung meninggalkan Rutan Cabang KPK, Jakarta, Selasa (9/7/2019) malam.

Syafruddin bebas setelah kasasinya dikabulkan MA. Putusan tersebut termaktub dalam amar putusan No. 1555K/PID.SUS-TPK/2019.

MA menyatakan, terdakwa kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) itu terbukti melakukan tindakan tersebut tetapi perbuatan itu tak dikategorikan sebagai tindak pidana. Sehingga, Syafruddin bebas dari jerat hukum.



(nth)

loading...
Berita Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif