alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Tidak Boleh Ada Manusia Dikorbankan Atas Nama Tuhan

SINDONEWS
Tidak Boleh Ada Manusia Dikorbankan Atas Nama Tuhan

Ahmad Zainul Hamdi
Ketua Departemen Studi Agama-agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Bagian paling epik dari kisah sejarah di balik Idul Adha adalah saat Ibrahim, sang Nabi, memutuskan untuk mengorbakan putranya, Ismail yang masih berusia remaja, kepada Tuhannya.

Keputusan ini bukan tanpa kepedihan. Bisakah dibayangkan kehancuran hati seorang ayah yang harus mengorbankan putranya. Di mana, dia sendiri yang harus menyembelih putranya di altar ritual pengorbanan.



Jangankan hati seorang ayah, bahkan nurani manusia pun menolak perintah seperti itu. Tuhan macam apa yang meminta hamba-Nya membuktikan kesetiaan pada-Nya melalui pengorbanan nyawa seorang manusia, bahkan jika pun manusia itu bukan anak sendiri.
 
Perintah mengorbankan nyawa sang perjaka ini bermula dari sebuah mimpi yang datang saat Ibrahim tidur. Tentu saja, mimpi ini membuatnya ragu. Keraguan yang sepenuhnya bisa dimengerti. Bagaimana mungkin Tuhan yang disembahnya meminta pengorbanan nyawa? Bagaimana mungkin? Apa bedanya Tuhan dengan seora raja lalim yang menguji kesetiaan hambanya sekedar untuk menyombongkan kekuasaannya bahwa dia bisa melakukan apa saja, termasuk membunuh siapa saja. Bagaimana Tuhan yang setiap saat diyakini maha adil tidak lebih dari sang penguasa lalim. Keraguan ini lahir dari nurani dan nalar kemanusiaannya.

Tapi, mimpi itu datang lagi. Akhirnya, dia kesampingkan nuraninya. Dia buang jauh-jauh nalarnya. Mimpi yang dia yakini kebenarannya berasal dari Tuhan itu diletakkan sebagai kata akhir. Barangkali nurani dipenuhi nafsu. Barangkali pertimbangkan nalar telah menipu. Bahkan cintanya sebagai seorang ayah ia buang jauh-jauh. Atas nama kesetiaan pada Tuhan, apa saja harus dikorbankan, bahkan sekalipun itu mengorbankan manusia.

Itulah keputusan akhir Ibrahim. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah hamba Tuhan yang setia, yang siap melakukan apa saja atas nama kepatuhan dan ketaatan kepada Tuhannya. Ismail harus disembelih di altar ketuhanan. Darah perjaka harus dialirkan untuk menyenangkan sang Tuhan. Kalau sampai keinginan Tuhan tidak dipenuhi, Tuhan mungkin akan murka. Ini adalah sebuah keputusan pertaruhan: taat atau ingkar, selamat atau tersesat!

Ibrahim, sang Bapak Monoteisme, telah membuat keputusan bulat. Namun, sebulat apapun keputusan itu, bahkan atas nama Tuhan sekalipun, Ibrahim tidak bisa melenyapkan nurani dan nalar dari dirinya. Dengan cucuran air mata, dia mempersiapkan upacara pengorbanan manusia itu. Sang perjaka Ismail yang pasrah, membuat air matanya semakin deras meleleh. Detik di mana dia menggoreskan pisunya yang tajam di leher sang putra, sang Nabi tidak sanggup menatapnya. Ia palingkan wajahnya ke arah lain agar tidak melihat tangannya menyembelih leher putranya sendiri.
 
Dengan hati berteriak, teriakan yang menggema di kebisuan padang pasir, dia menggorok leher putranya. Hatinya duka bercampur pasrah. Telah ia tunaikan perintah Tuhannya. Telah ia buktikan ketaatannya. Telah ia alirkan darah seorang perjaka.

Tapi tuhan bukanlah monster pembunuh manusia. Tuhan bukan vampir penghisap darah. Tuhan adalah Zat Maha Kasih terhadap seluruh hamba-Nya. Tuhan Maha Sempurna, yang kesempurnaan-Nya tak bertambah karena ketaatan hamba-Nya. Tak pula berkurang karena keingkaran hamba-Nya. Tuhan tidak membutuhkan darah manusia untuk dikorbankan dalam sebuah ritual pengagungan.

Sebaliknya, Tuhan menurunkan seluruh risalah-Nya adalah untuk kebaikan manusia. Karena itu, tidak seharusnya ada manusia yang dikorbankan atas nama diri-Nya. Dengan kuasa Tuhan, ritual pengorbanan manusia itu diganti menjadi penyembelihan seekor domba.

Ibrahim tak perlu mengorbankan nyawa putranya kepada Tuhan. Ibrahim tak perlu membuang nuraninya. Ibrahim tak juga perlu mengingkari nalarnya. Kepedihan dan kedukaannya dalam melaksanakan perintah Tuhan adalah karena perintah itu harus dilaksanakan dengan mencampakkan nurani dan nalarnya. Ketika dia tahu bahwa yang disembelihnya bukanlah putranya tapi  seekor domba, dia peluk sang putra dengan penuh cinta. Dia puja Tuhannya dengan penuh taqwa.

Melalui Nabi Ibrahim, Tuhan dengan sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa tidak boleh ada manusia yang dikorbankan atas nama diri-Nya. Ketaatan kepada Tuhan tidak boleh menjadi alasan untuk menista manusia dan menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan. Risalah keagamaan yang difirmankan Tuhan kepada manusia pada akhirnya berujung pada pencapaian kebaikan manusia itu sendiri (al-maslahah). Tidak ada satu pun perintah Tuhan yang tidak bermuara pada kebaikan manusia. Tuhan tidak butuh agama.

Sejarah agama sejak dulu tidak hanya diisi oleh upaya-upaya menegakkan kebaikan dan kemuliaan di antara sesama manusia, tapi juga kisah-kisah tragis pengorbanan manusia di altar ketuhanan. Bahkan, ketaatan kepada Tuhan bisa dengan mudah menjadi alasannya. Dengan modus yang berbeda, agaknya, praktik mengorbankan manusia atas nama Tuhan ini tetap berjalan hingga saat ini. Bukan oleh mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan, tapi seringkali justru oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai pembela Tuhan. Atas nama membela Tuhan (atau agama), mereka melakukan apa saja, termasuk menista nilai-nilai kemanusiaan.

Inilah ironi beragama. Ketika beragama dilepaskan dari nurani, dia akan melahirkan tindakan-tindakan barbar atas nama Tuhan. Ketika beragama dilucuti dari akal sehat, dia akan menghasilkan tindakan-tindakan bodoh atas nama agama.

Kisah Nabi Ibrahim adalah sebuah kisah di mana yang disebut dengan pengorbanan atas nama Tuhan bukanlah pengorbanan untuk mengagungkan Tuhan sambil merusak dan membinasakan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebaliknya, pengorbanan atas nama Tuhan adalah tindakan kebajikan untuk memuliakan manusia dan kemanusiaan. Tuhan tak menghisap darah manusia. Pun Tuhan tidak makan daging domba. Orang-orang fakir miskin membutuhkan uluran tangan kita saat mereka bahkan tidak tahu hari ini harus makan apa.



(msd)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif