alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

'Jangan Bung' Menyatukan Perbedaan Dalam Semangat Perjuangan

Ali Masduki
Jangan Bung Menyatukan Perbedaan Dalam Semangat Perjuangan
Pengunjung mengamati karya lukis bertajuk Jangan Bung, karya 20 seniman muda dari berbagai kota di Indonesia di Galeri Paviliun House of Sampoerna. Foto/SINDOnews/Ali Masduki

SURABAYA - Inspirasi akan perjuangan dalam melawan penjajah, menjadi pendorong 20 seniman dari berbagai kota di Indonesia, untuk menggelar pameran bertajuk "Jangan Bung".

Pameran ini digelar di Galeri Paviliun House of Sampoerna, Surabaya, pada 15 Agustus-7 September 2019, dengan menghadirkan keragaman latar belakang para seniman, yang berasal dari berbagai macam daerah.

Keragaman ini dianalogikan oleh 20 seniman muda layaknya "Jangan" atau sayur dalam Bahasa Jawa, dengan aneka macam bahan bercampur dan menciptakan citarasa yang nikmat.



Sementara "Bung" atau rebung (bambu muda) menggambarkan tombak bambu yang dulunya digunakan sebagai senjata bagi rakyat Indonesia untuk berjuang melawan penjajah.

Semangat perjuangan inilah yang menjadi motivasi para seniman untuk terus mempertahankan eksistensi diri dalam dunia seni rupa.

Jangan Bung Menyatukan Perbedaan Dalam Semangat Perjuangan

Visualisasi ciri khas para seniman tersaji apik dalam karya dua dimensi, dan tiga dimensi, serta sebagian besar menceritakan pengalaman pribadi perupa. Seperti karya Acin Heri menyampaikan pesan moral terinspirasi dari penyakit yang diderita ibunda tercinta dalam kreasi berjudul "Harapan, Doa dan Cita-cita".

Ada pula Rafika Anggraeni dengan karya bertajuk "Runtuh lalu putih", berupa coretan bolpoint pada kertas menggambarkan evolusi karakter manusia dalam menghadapi masalah-masalah yang datang dalam hidup.

Lain halnya dengan Galang Mado yang menciptakan "Perempuan", karya ini terisnpirasi dari figur perempuan sebagai dermaga dimana kehidupan berangkat, dikemas secara apik dan penuh warna dalam perpaduan akrilik diatas kertas.

salah satu peserta pameran, Apri Susanto menuturkan, bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Begitu pula alam dan seisinya, masing-masing mempunyai peranannya sendiri- sendiri, sesuai dengan porsinya.

"Terkadang sebagai manusia kita lalai bahwa dari perbedaanlah tercipta keindahan dan keseutuhan yang hakiki. Kebhinekaan dalam kebersamaan adalah kekuatan utama untuk mengalahkan penindasan," ungkapnya.

Jangan Bung Menyatukan Perbedaan Dalam Semangat Perjuangan

Sementara Manager House of Sampoerna, Rani Anggraini, berharap pameran ini dapat menyebarkan semangat pada generasi muda untuk menemukan jati diri, mengembangkan potensi yang dimiliki, serta menunjukkan eksistensi dengan berprestasi.

"Semoga pameran ini juga menjadi media bagi para seniman sebagai inspirator untuk mendekatkan diri dengan masyarakat sehingga timbul komunikasi yang konstruktif dan berguna bagi kedua belah pihak," kata Rani.

Sekedar diketahui, memiliki misi pendidikan dalam menjalankan programnya, Galeri Paviliun bekerjasama dengan seniman ternama maupun pemula, kolektor, komunitas, serta berbagai institusi dalam maupun luar negeri, yang memiliki kepedulian yang sama dalam perkembangan dan pelestarian seni dan budaya.

Hingga 2018, Galeri Paviliun telah menyelenggarakan 137 pameran dan 33 diskusi juga workshop dengan lebih dari 25 institusi dan komunitas serta lebih dari 500 seniman terlibat di dalamnya. Program pameran ini turut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan Nusantara dan Internasional.

Dikunjungi oleh 17.000 pengunjung rata-rata perbulannya dan datang lebih dari 160 negara, HoS berhasil meraih berbagai penghargaan, salah satunya adalah 'Top 10 Museum di Indonesia' dari TripAdvisor sejak 2013-2018.



(eyt)

loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif