alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ribuan Warga di Mojokerto Krisis Air Bersih, 50 Waduk Kering

Tritus Julan
Ribuan Warga di Mojokerto Krisis Air Bersih, 50 Waduk Kering
Warga di Dawarblandong, Mojokerto, mengambil air dari bak penampungan. Akibat sumur warga kering saat musim kemarau. Foto/SINDOnews/Tritus Julan.

MOJOKERTO - Musim kemarau panjang membuat 7.386 jiwa di enam desa yang ada di Kabupaten Mojokerto, mengalami krisis air bersih. Bahkan, 50 waduk juga sudah kering kerontang.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, enam desa itu tersebar di tiga kecamatan. Di antaranya, Desa Kunjorowesi, Manduromanggunggajah, dan Kutogirang, di Kecamatan Ngoro.

Selanjutnya Desa Duyung, di wilayah Kecamatan Trawas, serta Desa Simongagrok, dan Desa Dawarblandong, di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Dari tiga kecamatan tersebut, tiga desa di wilayah Kecamatan Ngoro, menjadi yang paling banyak mengalami krisis air bersih.



"Jumlah total yang terdampak sebanyak 7.386 jiwa. Paling banyak di Ngoro. Dusun Kandangan dan Dusun/Desa Kunjorowesi, 1.607 jiwa. Kemudian di Dusun Buluresik, dan Dusun Manggunggajah, Desa Manggunggajah, 700 jiwa serta di Dusun Gadon, Desa Kutogirang, 750 jiwa," kata Zaini, Selasa (20/8/2019).

Sementara di Dusun Sekeping, dan Dawar, Desa Dawarblandong, krisis air berdampak pada 1.450 jiwa. Sedangkan untuk Dusun Tempuran, Ngagrol, Genceng, dan Mlati di Desa Simongagrok, krisis air bersih menimpa 2.070 jiwa. Untuk di Desa Duyung, Kecamatan Trawas, menerpa 509 jiwa.

Guna mengatasi krisis air bersih itu, kata Zaini, pihaknya sudah melakukan upaya tanggap darurat. Dalam sehari sebanyak 11 tangki air bersih dikirimkan BPDB Kabupaten Mojokerto ke enam desa yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau ini.

"Setiap hari kita suplai 11 tangki air bersih untuk mencukupi kebutuhan masak dan minum. Alhamdulillah saat ini kebutuhan air bersih sudah bisa tercover," imbuhnya.

Ribuan Warga di Mojokerto Krisis Air Bersih, 50 Waduk Kering

Dikatakan Zaini, krisis air bersih yang melanda sejumlah desa di Kabupaten Mojokerto ini memang sudah terjadi setiap tahunnya. Namun, ia mengklaim, bahwa tahun ini luasan dampak kekeringan menurun dibanding tahun 2018 lalu yang mencapai delapan desa.

"Dusun Sumberan, Desa Kunjorowesi sudah bisa teratasi. Pipa yang dari Trawas ke Kunjorowesi sudah tersambung. Kedepannya tinggal meneruskan pemasangan pipa dari bak induk ke dusun yang masih terdampak. Seperti, Kandangan dan Telaga, serta Kunjoro," jelasnya.

Sementara itu, kemarau panjang juga membuat puluhan waduk yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian mengalami penyusutan debit air. Bahkan tidak sedikit yang kondisinya kering kerontang.

"Dari 61 waduk, hasil pengecekan dari BPBD Mojokerto, 50 diantaranya mengering. Tanah waduk juga retak-retak. Sehingga tidak bisa digunakan untuk mengairi lahan pertanian," terangnya.

Zaini menyebutkan, 50 dari 61 waduk yang mengering tersebut tersebar di wilayah utara sungai Brantas. Diantaranya, 11 waduk di Kecamatan Jetis, 18 waduk di Kemlagi, dan 21 waduk di Kecamatan Dawarblandong.

"Total luasan waduk yang terdampak sekitar 50 sampai 55 hektare. Tentu juga ini berdampak pada pertanian, karena untuk bercocok tanam dibutuhkan ketersediaan air," pungkas Zaini.



(eyt)

loading...