alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Berkat OVO, PKL pun Kini Bisa Menerima Pembayaran Non Tunai

Aan Haryono
Berkat OVO, PKL pun Kini Bisa Menerima Pembayaran Non Tunai
Arif Ilham, pedagang kopi di sentra kuliner Siwalankerto, Kota Surabaya menerima pembayaran non tunai. Foto/SINDONews/Aan Haryono

SURABAYA - Pembayaran non tunai semakin masif di masyarakat. Bahkan, pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di pinggir jalan mulai bergeser untuk menerima pembayaran non tunai.  

Arif Ilham, pedagang kopi di sentra kuliner Siwalankerto tak ragu ketika menerima pembayaran non tunai dengan melakukan scan dari ponsel pembelinya. Kopi hitam seharga Rp3.000 dibayar dengan uang non tunai dari pembelinya.

"Mudah kok, awalnya saja sih sempat bingung kalau ada transaksi. Tapi sejauh ini tak ada masalah," ujar Arif, Jumat (14/9/2018).

Ia melanjutkan, dirinya kini tak perlu lagi kerepotan untuk mencari uang kembalian pada pembeli. Sebab, pembayaran non tunai tak memerlukan kembalian yang ribet.

Untuk tiap transaksi, pembayaran di tempatnya minimal Rp1.000. "Jadi beli gorengan satu biji bisa pakai uang non tunai, harga gorengan kan Rp1.000," ungkapnya.

Pria paruh baya itu mengaku penjualannya meningkat ketika membuka layanan pembayaran non tunai. Tiap hari pun ia memang masih tetap menerima pembayaran tunai. Tapi pembayaran non tunai menambah daya tarik tersendiri bagi para pembelinya.

"Ada orang yang hanya penasaran untuk membeli. Ini yang meningkatkan penjualan kopi saya," jelasnya.  

Director OVO Johnny Widodo menuturkan, pihaknya memang sudah meluncurkan OVO QR code yang dapat diakses melalui aplikasi OVO dan Grab untuk memperluas jangkauannya ke 25.000 Usaha Kecil Menengah (UKM) di seluruh Indonesia, termasuk Surabaya.

Melalui upaya ini, OVO menjadi platform pembayaran di Indonesia yang diterima di semua jenis bisnis, dari mal besar hingga gerai tradisional kecil yang belum pernah tersentuh pembayaran non-tunai.

"Pada akhir 2018 ini kami menargetkan QR code untuk tersedia di 100.000 UKM," ujar Johnny.

Sampai akhir tahun kemarin, katanya, terdapat hampir 60 juta UKM di Indonesia yang menyumbang lebih dari 60% PDB negara. Namun, kurang dari 8% dari UKM tersebut yang menggunakan teknologi untuk memasarkan produk mereka. Surabaya sendiri menjadi kota potensial, setidaknya 98% pembangunannya ditopang dari sektor UKM.

"Surabaya merupakan kota yang memiliki potensi UKM dengan hasil produk-produk  berkualitas dan bernilai tinggi. Beragam inovasi produk dari mulai makanan hingga kerajinan tangan khas daerah Surabaya menjadi daya tarik tersendiri bagi kota ini," jelasnya.

Dengan memperluas QR code OVO hingga ke Surabaya, lanjutnya, pihaknya ingin membuat teknologi pembayaran yang terjangkau tersedia bagi usaha kecil seperti pujasera, pasar, warung dan kios yang menjadi pusat keramaian transaksi antara penjual dan pembeli.

"Kami ingin membantu mereka untuk menumbuhkan bisnis secara lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi OVO dan memberikan kontribusi yang lebih lagi terhadap ekonomi Kota Surabaya," katanya.

Johnny juga menjelaskan, selama ini belum ada yang dapat membawa UKM seperti warung kelontong ke dalam pembayaran non-tunai dalam skala yang besar. Tersedianya QR code di UKM menjadikan OVO sebagai main wallet yang dapat digunakan oleh siapa pun serta di mana saja dilakukan.

"Pengguna sekarang dapat menggunakan dompet digital OVO di seluruh Indonesia, dari restoran hingga minimarket, untuk transportasi, belanja di toko, warung hingga gerai tradisional dan e-commerce, hingga pembelian pulsa telepon atau listrik, serta pembayaran billing kebutuhan sehari-hari," ucapnya.



(eyt)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif