alexa snippet
more
TOPIK TERPOPULER

Bayar Bus Pakai Botol Plastik, Surabaya Nominator Guangzhou Award

Aan Haryono
Bayar Bus Pakai Botol Plastik, Surabaya Nominator Guangzhou Award
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini memberikan penjelasan tentang pemanfaatan sampah sebagai barang yang berguna bagi masyarakat di kongres UCLG Aspac. Foto/SINDONews/Aan Haryono

SURABAYA - Kota Surabaya kembali terpilih dalam nominasi Guangzhou award tahun 2018. Masuknya nama Surabaya tahun ini sebagai nominator merupakan yang ketiga kalinya.

Dari tiga kali masuk, Kota Pahlawan selama ini selalu gagal untuk menjadi pemenang. Untuk tahun ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismahrini optimis Kota Pahlawan mampu meraih penghargaan internasional tersebut. “Semoga kesempatan yang keempat ini bisa menang,” Risma, Jumat (14/9/2018).

Ia melanjutkan, setiap kali Surabaya mengikuti berbagai macam perlombaan level lokal maupun internasional, dirinya selalu menekankan kepada seluruh aparat sipil negara (ASN) dan warga bahwa penghargaan bukanlah yang utama. "Justru tujuan utama kita adalah mensejahterakan warga Surabaya agar hidup lebih baik ke depannya," ungkapnya.

Director of Guangzhou Institute for Urban Innovation Nicholas You mengatakan, alasan terpilihnya Surabaya dalam nominasi Guangzhou award karena inisiatif yang dilakukan Surabaya dengan melibatkan masyarakat yang kemudian menjadi gerakan sosial. Hal ini bisa menjadi contoh untuk negara lain dan itu tidak dapat disepelekan.

Nicholas mencontohkan, pembayaran transportasi umum menggunakan botol plastik kosong. Selain itu, inisiatif pengelolaan limbah di Surabaya telah mendapatkan kepemilikan dan pembelian yang luas, sangat kreatif dan di dasarkan pada model bisnis yang murah serta berkelanjutan secara keuangan.

"Meskipun populasi berkembang, jumlah limbah yang dihasilkan semakin berkurang," terangnya.

Lebih lanjut, komitmen yang kuat untuk mengadopsi praktik terbaik dan teknologi internasional dalam menciptakan sistem pengelolaan, pemantauan dan pelaporan limbah yang berkelanjutan secara ekonomi.

"Hal itu yang membuat Komite Teknis terkesan oleh efektivitas, kreativitas dan inisiatif Kota Surabaya dan itu sudah dibuktikan secara nyata," kata Nicholas.

Nicholas juga menjelaskan, Surabaya sudah layak disebut sebagai kota berkelanjutan. Hal itu dibuktikan dengan sistem pengelolaan limbah partisipatif yang menjadi titik awal bagi Surabaya untuk menjadi kota yang lebih berkelanjutan.

Pengelolaan limbah yang efektif, katanya, membutuhkan pengurangan konsumsi, peningkatan penggunaan kembali dan daur ulang dan disiplin.

"Ini adalah indikator kunci dari perubahan perilaku. Mungkin salah satu bahan terpenting untuk memperkenalkan perubahan di sektor lain seperti transportasi dan mobilitas, energi, keselamatan dan nutrisi," jelasnya.

Nantinya, Indonesia akan bersaing dengan 14 kota untuk mendapatkan Guangzhao award diantaranya, Brusells Belgia, Dangbo Benin, Federal Distric Brazil, Vaudreuil-Dorion Canada, Vancouver Canada, Guangzhou, China, Nanning China, Bogota Colombia, Curridabat Colombia, Senftenberg Germany, Isfahan Iran, Hong Kong China, Eliat Israel, Kfar Saba, Israel dan Bologna Italia.

"Kota-kota terpilih akan diundang ke Guangzhou pada awal Desember dan juri akan memutuskan pemenang berdasarkan presentasi serta aplikasi tertulis yang telah diajukan setiap kota," ucapnya.



(eyt)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif