alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Doktor ITS Kembangkan Metode Ketahanan Bangunan di Tanah Lunak

Aan Haryono
Doktor ITS Kembangkan Metode Ketahanan Bangunan di Tanah Lunak
Yusti Yudiawati ST MT menjelaskan tentang bangunan di tanah lunak yang memiliki potensi amblesan. Foto/SINDOnews/Aan Haryono

SURABAYA - Tanah lunak di Indonesia menjadi perdebatan sengit dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan bangunan di berbagai kota besar menjadi salah satu alasan ibukota negara Indonesia dipindah.

Tanah lunak sendiri menjadi penurunan bangunan yang diperkirakan sekitar 10 persen dari total daratan di Indonesia. Kondisi itu membuat Yusti Yudiawati ST MT dari program doktoral Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan metode tiang friction.

Yusti menjelaskan, riset yang dilakukannya tersebut dilatar belakangi banyaknya bangunan yang miring di Kota Banjarmasin. Kondisi itu disebabkan fondasi bangunan diletakkan di lapisan tanah yang lunak.



Dia melakukan penelitian dan pengujian ini di Universitas Lambumangkurat, Banjarmasin. “Dari riset ini dapat diprediksi perilaku jangka panjang penurunan tiang bangunan,” kata Yusti, Minggu (1/9/2019).

Menurut dia, fondasi yang tertanam pada tanah lunak memiliki banyak permasalahan. Salah satunya penurunan fondasi gedung yang tidak sama. Penurunan ini menyebabkan kerusakan dari struktural bangunan. Sedangkan prediksi besarnya penurunan pada tiang letakan jauh lebih sulit daripada menentukan daya dukung tiang.

“Karena penurunan tiang ditentukan oleh pembebanan jangka panjang,” jelas alumni magister Teknik Sipil ITS ini.

Yusti mengatakan, untuk menghadapi hal tersebut diperlukan adanya penelitian pada fondasi sesungguhnya atau real pile. Kondisi tersebut dapat dilakukan dengan cara pengujian pembebanan di lapangan. Cara ini juga dilakukan dengan pengamatan penurunan jangka panjang yang terjadi pada kepala tiang.

“Hasil uji pembebanan jangka panjang akan dievaluasi terhadap hasil uji pembebanan jangka pendek,” kata dia.

Menurut Yusti, penelitannya ini bertujuan untuk mendapatkan kurva load displacement hasil uji pembebanan langsung tiang lekatan tunggal dan kelompok. Dengan kurva itu akan diketahui perilaku jangka pendek dan jangka panjangnya.

“Selain itu, juga akan didapatkan metode prediksi load displacement jangka pendek tiang lekatan tunggal,” kata dia.

Kurva tersebut, kata dia, dapat juga digunakan untuk mendapatkan metode perencanaan fondasi kelompok tiang lekatan yang boleh mengalami penurunan tapi tidak terjadi differential settlement. “Differential settlement ini adalah kondisi fondasi bangunan berada dalam mode tidak rata,” jelas dia.

Metode penelitian ini dilakukan dengan mengamati perilaku load displacement tiang lekatan, tunggal, dan kelompok di lapangan. Perilaku tersebut dapat diketahui dengan melaksanakan tiga program pengujian. Program tersebut berupa penyelidikan tanah, pengujian pembebanan tiang ultimate, serta pengujian pembebanan dan pengamatan jangka panjang. “Pengujian tersebut dilakukan dengan beberapa variasi beban dan waktu waktu pengamatan,” ujar dia.

Dari penelitian, dia menyimpulkan kalau penurunan akibat pembebanan jangka pendek tiang kelompok lebih besar daripada tiang tunggal dengan reduksi kapasitas aksial kelompok tiang lekatan mencapai 50%.

Deformasi jangka panjang pada tiang lekatan mengakibatkan penurunan jangka panjang melebih penurunan yang diijinkan, “Kami juga membuat formulasi konstanta rangkak U jangka panjang untuk perhitungan dalam penelitian ini,” kata Yusti.

Yusti juga menegaskan, manfaat besar dari penelitian ini adalah ketika membangun gedung baru dapat diprediksi penurunannya. Apabila keadaan gedung tersebut boleh turun, maka dapat dibatasi penurunan dari konstruksi tersebut. Apabila tidak boleh turun dapat didesain dengan TZ curve dalam perencanaannya. Sehingga bangunan tersebut tidak akan turun atau dapat mengalami penurunan tapi tidak menyebabkan kondisi bangunan miring.

“Riset ini bisa dikembangkan dengan rasio beban gempa, sehingga bisa diletakkan di daerah gempa,” kata dia.



(nth)

loading...