alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Mahasiswa Ubaya Ajak Pengunjung Mall Mainkan Board Games

Ali Masduki
Mahasiswa Ubaya Ajak Pengunjung Mall Mainkan Board Games
Pengunjung main bersama diarea Informatics Creative Festival 2019, di Atrium Hall East Coast Center Lt. 1, Pakuwon City, Surabaya, Rabu (11/9/2019). Foto/SINDOnews/Ali Masduki

SURABAYA - Dua mahasiswa program studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), berhasil membuat board games "Survival Land", dan "The Pamona".

Dua game karya mahasiswa Ubaya tersebut, mampu memberikan pengalaman bermain yang berbeda kepada generasi milenial.

Kedua mahasiswa tersebut, juga mengajak para pengunjung untuk bermain bersama di area Informatics Creative Festival 2019 yang digelar di Atrium Hall East Coast Center Lt. 1, Pakuwon City, Surabaya, Rabu (11/9/2019).



Board games "Survival Land" buatan Robert Surya Nata, merupakan permainan mengasah otak dan melatih kerjasama tim dalam bertahan hidup di alam terbuka dengan membuat rute perjalanan yang tepat untuk mencapai garis finish bersama.

Selain sebagai media hiburan, board games "The Pamona" milik Victor Riyois Sorongku dilengkapi dengan penjelasan yang mengedukasi pemain terkait potensi wisata kabupaten Poso, Sulawesi Tengah yang jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia.

Robert Surya Nata menuturkan bahwa board games "Survival Land" merupakan cara baru melatih kekompakan dan kerjasama tim di kalangan generasi milenial.

Permainan ini dirancang untuk meminimalisir sisi negatif dari penggunaan gadget yang membuat generasi milenial menjadi pribadi yang individu, egois dan cenderung mengurangi pertemuan tatap muka dalam berkomunikasi. Secara tidak langsung, dengan bermain board games ini pemain akan diajak untuk hidup bersosialisasi dan lebih peduli kepada sesama.

Berbeda dengan board games pada umumnya, kemenangan dalam permainan bukan diraih secara individu namun berkelompok. Setiap pemain dalam permainan digambarkan sebagai sekelompok anak dari abad 22 yang terlempar ke dunia masa lalu dimana terjadi banyak bencana di dalamnya.

Selain berusaha menemukan rute jalan, pemain akan berhadapan dengan bencana alam yang membuat dirinya atau pemain lain terluka dan perjalanan terganggu. Setiap pemain memiliki kemampuan masing-masing yang berguna untuk saling membantu dalam permainan.

Pemain dapat berperan sebagai Path Fixer untuk membuka jalan yang terkena bencana seperti longsor dan pohon tumbang, Medic bertugas menyembuhkan diri sendiri atau pemain lain yang terluka terkena bencana, dan Path Finder memiliki kemampuan melihat rute jalan yang ingin dibuka dengan jarak dua kartu didepannya.

Mahasiswa Ubaya Ajak Pengunjung Mall Mainkan Board Games

Board games "Survival Land" dapat dimainkan dengan durasi permainan selama 30 sampai 60 menit oleh tiga hingga enam orang untuk usia 18 tahun keatas.

"Permainan ini membutuhkan strategi, komunikasi, dan kerjasama tim yang baik. Jika meninggalkan salah satu pemain dalam games, maka permainan akan berakhir dan kalah. Jika mau menang maka tidak boleh meninggalkan pemain yang lain dan harus saling membantu jika terkena bencana alam selama permainan berlangsung. Setiap pemain harus menurunkan ego masing-masing untuk mencapai garis finish dan meraih kemenangan bersama," ujar pria kelahiran Banjarmasin ini.

Disamping itu, Victor Riyois Sorongku juga menjelaskan bahwa board games "The Pamona" dibuat untuk memperkenalkan salah satu potensi wisata yang ada di wilayah Indonesia yaitu Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Pamona merupakan nama suku asli yang tersebar di Kabupaten Poso.

Melalui board games ini, setiap pemain diajak untuk menjelajah lokasi wisata, mengetahui hasil bumi, melihat bentuk ukiran, dan hidup beradaptasi seperti suku Pamona. Pemain juga mendapat penjelasan dan gambar terkait lokasi wisata dan artefak pada kartu permainan agar pemain mendapat gambaran, sejarah dan informasi yang jelas.

Permainan ini juga menggunakan perhitungan dan melatih otak untuk menukar material hasil bumi yang didapat pada setiap lokasi sesuai dengan syarat untuk berpindah tempat atau melakukan aktivitas lain seperti memancing, berkebun, hingga menukarkan kunci peti untuk membuka peti artefak.

Permainan dikatakan selesai dan menang jika berhasil mengumpulkan tiga artefak bersejarah suku Pamona yaitu Pasatimpo, Pamona King’s Tomb, dan Baoela Statue yang tersebar di wisata terpencil yaitu Air Terjun Saluopa, Watumora’a dan Lembah Bada. Board games “The Pamona” dapat dimainkan dengan durasi permainan selama 45 sampai 80 menit oleh tiga hingga enam orang untuk usia 14 tahun keatas.

"Bermain sekaligus memperkenalkan wisata alam Kabupaten Poso dan budaya suku Pamona, itu konsep board games ini. Terdapat 29 lokasi wisata yang ada pada papan permainan. Pemain juga dapat berkebun dan mendapatkan hasil bumi suku Pamona berupa cokelat dan cengkeh. Selain itu, pemain juga bisa memancing dan menyusuri danau Poso dengan perahu Katinting. Saya berharap dengan penjelasan permainan yang menggunakan bahasa Inggris tidak hanya menarik masyarakat Indonesia untuk bermain tetapi dapat menjadi media hiburan dan promosi wisata bagi wisatawan asing," jelas pria yang gemar desain grafis dan wisata ini.

Survival Land dan The Pamona merupakan board games yang dipamerkan pada Informatics Creative Festival 2019 dengan tema "Life In Technology" yang diselenggarakan setiap tahun oleh Program Studi Teknik Infomatika Fakultas Teknik Ubaya.

Dosen Pembina ICF 2019 sekaligus Dosen Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Ubaya, Hendra Dinata, menjelaskan bahwa pameran hasil karya Tugas Akhir mahasiswa ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memberikan wawasan kepada masyarakat terkait bidang keilmuan program studi Teknik Informatika di Ubaya. Disamping itu, pameran ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat.

"Kami berharap masyarakat khususnya pengunjung pameran menjadi tahu bahwa Ubaya memiliki program studi yang berfokus pada pengajaran di bidang Teknik Informatika. Banyak karya Tugas Akhir mahasiswa yang dipamerkan berupa video animasi, games, aplikasi, website dan board games. Semoga karya mahasiswa tidak hanya sekedar menarik namun juga bisa digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat," pungkas Hendra.



(eyt)

loading...