alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Upaya Meluruskan Persepsi tentang Radikalisme Perlu Kesabaran dan Kehati-hatian

Vitrianda Hilba Siregar
Upaya Meluruskan Persepsi tentang Radikalisme Perlu Kesabaran dan Kehati-hatian
Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah (STDI) Imam Syafii Jember, Jawa Timur menggelar seminar untuk mengupas tuntas pengertian hingga faktor penyebab radikalisme dan terorisme, 20-21 September. (Foto/Ist)

JEMBER - Isue radikalisme dan terorisme menjadi sebuah topik yang hangat diperbincangkan di tengah publik dan perlu kehatian-hatian menjelaskannya.

Meskipun harus berhati-hati namun masalah ini harus dijelaskan sehingga tidak ada lagi kesalahan publik mempersepsikannya.

Nah semua persoalan itu dikupas dalam sebuah seminar dalam seminar internasional bertema Peranan Ahli Hadits Klasik dan Kontemporer dalam Menanggulangi Radikalisme yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah (STDI) Imam Syafi’i Jember, Jawa Timur, 20-21 September.
   
Ketua Panitia Ali Musri Semjan Putra mennjelaskan, seminar dibuat untuk mengupas tuntas pengertian hingga faktor penyebab radikalisme dan terorisme yang terjadi bukan hanya di Indonesia, namun juga di belahan dunia lain.



Namun sebagian besar publik mempersepsikan hal yang terjadi itu Indonesia masih disandarkan pada dunia Islam saja.

"Ini yang ingin kami luruskan. Publik mempersepsikan teroris dan radikal itu ciri-cirinya  berjenggot, celana cingkrang, dan perempuan bercadar. Ini keliru dan telah membuat definisi radikal menjadi bias," kata Ali dalam konferensi pers pembukaan seminar internasional tersebut yang digelar di Hotel Dafam Jember, Jumat (20/9/2019) malam.

Selama ini tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada kelompok muslim yang masih mempertahankan tradisi Islam konservatif dalam setiap aksi teror sangat tidak berdasar.

"Sehingga ada kerancuan dalam masalah ini. Melalui seminar ini, kami ingin membuktikan melalui penjelasan yang sebenarnya. Sehingga memberikan pencerahan dan menghapuskan bias. Serta menawarkan solusinya," terangnya.

Lantas apa kata Profesor Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Alfatih Suryadilaga soal terorisme dan radikal ini?

Dia menjelaskan bahwa memahami dan menjelaskan radikalisme yang berkembang seperti saat ini butuh kehati-hatian.

"Jangan memahami radikalisme secara serampangan lalu langsung merujuk pada kelompok tertentu. Misal yang berjenggot, mengenakan celana cingkrang," sebutnya.

Muhammad Alfatih Suryadilaga yang juga ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) ini melanjutkan, kelompok muslim yang masih mempertahankan tradisi murni tersebut masih menjadi bagian dari komunitas Islam.

"Nah, sesungguhnya  mereka merupakan salah satu model dari ajaran Islam. Kita butuh saling memahami sehingga dapat mewujudkan Islam sebagai rahmatan lilalamin," bebernya.

Pimpinan STDI Imam Syafi'i Muhammad Arifin Badri ikut menambahkan,  STDI Imam Syafi'i berupaya ikut serta dalam upaya menanggulangi radikalisme dan dampaknya.

"Kami berkomitmen berkontribusi dalam penanggulangan problem sosial termasuk masalah keagamaan. Salah satu yang jadi sumber masalah adalah radikalisme yang dikemas atas nama agama," tuturnya.

Banyak faktor yang jadi penyebab munculnya radikalisme yang menunggangi agama Islam. Misalnya saja  penggunaan dalil-dalil palsu untuk mendoktrin seseorang menjadi radikal.

Selain itu, Arifin juga menambahkan bahwa radikalisme bukanlah hak yang baru dikenal. Bahkan, radikalisme sudah ada jauh sebelum turunnya agama Islam.

Seminar internasional yang berlangsung hingga hari ini Sabtu 21 September 2019 menghadirkan pembicara utama dari kawasan Timur Tengah (Timteng).

Di antaranya adalah Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz Al Faleh (Dekan Fakultas Hadis dan Ilmu Hadis Universitas Islam Madinah), Syaikh Prof. Dr. Ali Ibrahim Saud (Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Alu Al Bayt, Amman Yordania), Syaikh Prof. Dr. Abdus Sami’ Muhammad Anis (Guru Besar Ilmu Hadis, Universitas Sharjah, UEA), dan beberapa ulama-ulama hadis lainnya.



(vhs)

loading...
Berita Terkait