alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Anggota Babinsa di Malang Sulap Kantor Koramil Jadi Sekolah

Haryudi
Anggota Babinsa di Malang Sulap Kantor Koramil Jadi Sekolah

MALANG - Banyaknya penyandang difable di wilayah Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang yang terkurung di rumah, memantik perhatian TNI AD. Melihat kondisi itu, Komando Rayon Militer (Koramil) 0818/07 Pakisaji berinisiatif merelakan kantornya dijadikan 'Sekolah Berkebutuhan Khusus'.

Berdasarkan pendataan dari Koramil Pakisaji, sebanyak 179 warga Pakisaji, Kabupaten Malang menyandang difable. "Bahkan bisa lebih, itu hasil pendataan sementara. Mereka yang mau belajar di Komunitas Kartika Mutiara ini dari 179 hanya 60," ujar Komandan Koramil 0818/07 Pakisaji Kapten Czi Widagdo saat dikunjungi tim media dari Dinas Penerangan Mabes TNI AD, Selasa (22/10/2019).

Ia menjelaskan penggagas komunitas penyandang Difable Kartika Mutiara ini digagas oleh anggotanya yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) Pakisaji yakni Sersan Dua (Serda) Tri Djoko Purwanto.



"Nah, anggota Babinsa ini rutin biasa patroli melihat keluar, kemudian hati nuraninya merasa terusik saat melihat ada satu keluarga yang mengalami gangguan mental atau difable. Saat itu juga kita melakukan pendataan, ternyata jumlahnya banyak saat itulah kita memfasilitasi dengan menyediakan tempat untuk berinteraksi dan belajar mengajar," ujarnya.

Sementara itu, Anggota Babinsa Pakisaji Koramil 0818/07 Pakisaji, Serda Tri Djoko Purwanto mengaku awal mula merintis mendirikan Komunitas Difable Kartika Mutiara yakni pada 27 September 2017, saat menjalankan tugas berupa patroli atau anjangsana hatinya terpanggil ketika melihat masyarakatnya banyak yang mengalami difable.

"Saat itu juga saya melaporkan ke Danramil terkait problem sosial ini dan saya memiliki ide hingga berinisiatif membuat komunitas agar mereka (para penyandang Difable) yang rata-rata dari keluarga pra sejahtera itu tidak dibiarkan begitu saja dikurung dirumah, dari situ akhirnya saya rela menyisihkan waktu saya untuk mengumpulkan dan mengajarkan mereka," katanya.

Ia mengaku termotivasi mengumpulkan mereka dengan membentuk komunitas Difable Kartika Mutiara yang mengambil tempat dikantornya karena kasian sebagian besar mereka usia sekolah.

"Saya berpikir kenapa mereka tak disekolahkan di Sekolah Luar Biasa atau Sekolah Berkebutuhan Khusus (SBK). Ternyata di Kecamatan Pakisaji belum ada SBK, adanya di kecamatan lain bahkan lokasinya cukup jauh," ujarnya.

Ia mengaku tak memiliki bekal atau basic cara mendidik kaum difable, tapi dengan semangat dan kesabarannya yang kuat, akhirnya komunitas yang semula hanya mendidik beberapa orang saja di satu desa.

"Kini peserta didiknya sudah mencapai 60 orang (tuna grahita, daksa, wicara dan rungu) dari 12 desa yang ada di Kecamatan Pakisaji. Jujur saya tak ada latarbelakang atau minat menjadi sebagai seorang guru. Saya otodidak saja yang ilmunya juga saya dalami dari internet tentang mendidik anak-anak atau orang-orang berkebutuhan khusus ini," jelasnya.

Dalam satu pekan, Sekolah Berkebutuhan Khusus di komunitas Difable yang didirikannya ia rela dalam setiap pekan menyisihkan waktunya empat jam mendampingi, membimbing dan mengajari para penyandang difable itu.

"Sekarang ini pengajarnya bukan hanya saya tapi dari Babinkamtibmas Polsek Pakisaji, orang tua peserta, bahkan pernah mendatangkan guru SLB juga ada, tapi itu hanya sementara. Karena faktor dana. Disini kita mengajarkan mereka keterampilan, baca tulis hitung dan mengaji yang diadakan setiap Selasa, Kamis dan Sabtu, dari jam dua siang sampai jam lima sore," ujarnya



(msd)

loading...
Berita Terkait