alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ayo Cegah DBD Lewat Aplikasi e-Jatim Sehat Ciptaan Dosen ITS

Aan Haryono
Ayo Cegah DBD Lewat Aplikasi e-Jatim Sehat Ciptaan Dosen ITS
Wiwik Anggraeni dari Departemen Sistem Informasi ITS, menunjukan aplikasi e-Jatim Sehat untuk mencegah sebaran DBD. Foto/Ist.

SURABAYA - Saat musim hujan datang, ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) cukup tinggi. Masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularannya.

Untuk mengurangi risiko sebaran DBD di masyarakat, tim dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menciptakan sebuah aplikasi bernama e-Jatim Sehat.

Para dosen yang terdiri dari Wiwik Anggraeni, dari Departemen Sistem Informasi; Eko Mulyanto Yuniarno, dan Mauridhi Hery Purnomo Departemen Teknik Komputer ini ingin melakukan upaya pencegahan sejak dini.



Wiwik Anggraeni menuturkan, latar belakang dari penelitian tersebut adalah adanya fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan tingkat penderita DBD yang tinggi. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, hingga Januari 2019 ada 13.683 kasus dan 133 orang meninggal dunia akibat DBD.

"Makanya dibutuhkan prediksi persebaran DBD untuk beberapa tahun ke depan agar Indonesia lebih maksimal dalam mengantisipasi persebaran penyakit tersebut," kata Wiwik, Rabu (15/1/2020).

Ia melanjutkan, dalam catatannya Kota Malang menjadi salah satu daerah dengan tingkat DBD yang tinggi. Sepanjang Januari 2019 tercatat 72 orang di Kota Malang, telah terjangkit DBD. Karenanya, Wiwik dan tim memilih Kota Malang, sebagai percobaan penelitian pertama.

"Namun tidak menutup kemungkinan, bahwa aplikasi e-Jatim Sehat dapat diaplikasikan ke berbagai daerah di Indonesia," jelasnya.

Wiwik menambahkan, aplikasi e-Jatim Sehat adalah aplikasi yang difungsikan untuk memprediksi, memberikaan visualisasi, dan Decision Support System untuk mengurangi persebaran penyakit demam berdarah di Indonesia.

Sasaran dari aplikasi ini, katanya, adalah instansi kesehatan seperti Puskesmas dan Dinas Kesehatan Daerah. "Aplikasi ini nantinya akan memudahkan instansi kesehatan untuk melihat prediksi persebaran DBD hingga beberapa tahun ke depan," jelasnya.

Wiwik menjelaskan, penelitian ini ia mulai sejak 2016  bersama timnya dari Sistem Informasi ITS dalam Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) yang dulunya dibawahi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

"Penelitian awal aplikasi ini masih sebatas prediksi dan viusalisasi saja, kemudian sekarang kami kembangkan dengan menambahkan Decision Support System (DSS)," ungkapnya.

DSS merupakan peringatan dan saran yang bisa dilakukan oleh Dinas Kesehatan untuk mengurangi jumlah penyebaran DBD berdasarkan prediksi yang ada. Melalui DSS ini, Dinas Kesehatan dapat lebih siap untuk mengantisipasi dampak dari persebaran DBD yang akan terjadi.

"DSS juga disesuaikan dengan jadwal yang tepat bagi Dinas Kesehatan dalam melakukan tindakan antisipasi tersebut," kata alumnus S2 Teknik Informatika ITS ini.

Wiwik juga membeberkan, selain memiliki DSS untuk mendukung mitigasi persebaran DBD. Aplikasi e-Jatim Sehat ini juga melibatkan banyak faktor dalam memprediksi persebaran DBD, sehingga data yang didapatkan lebih akurat. "Faktor tersebut di antaranya adalah iklim, suhu, curah hujan, kecepatan angin, topografi wilayah, dan jumlah penduduk," imbuhnya.



(eyt)

loading...