alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Firli Disindir Mantan Pimpinan KPK, Heran Tak Bisa Tangkap Harun

Raka Dwi Novianto
Firli Disindir Mantan Pimpinan KPK, Heran Tak Bisa Tangkap Harun
Mantan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif (kiri). Foto/SINDOnews/Raka Dwi Novianto

JAKARTA - Mantan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode M Syarif mengaku heran dan bertanya-tanya dengan belum tertangkapnya Caleg PDIP di Pemilu 2019 Harun Masiku yang telah ditetapkan tersangka kasus PAW DPR RI.

Padahal, kata Laode, KPK memiliki sumber daya yang mendukung untuk menangkap para koruptor. Karena alasan itu, Laode pun heran KPK tidak kunjung menangkap Harun Masiku.

"Ya, KPK punya peralatan. Bukan cuma peralatan, sebenarnya KPK juga punya orang, KPK juga bisa bekerja sama dengan polisi, kan. Di Kepolisian ada intelijen. Jadi, bahkan lari ke luar negeri pun jaringan KPK lumayan lengkap," kata Laode dalam diskusi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (13/2/2020).



"Jadi, yang high profile seperti Harun Masiku ini kalau dia di Indonesia, ya, berdasarkan dulu-dulu tidak sulit sih," kata dia.

Laode pun menyindir Firli, bahwa KPK dulu di bawah kepemimpinannya justru sering membantu Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam menangkap buronan. "Bahkan, KPK itu sering membantu Kejaksaan untuk mendapatkan buron. Jadi, seharusnya kalau dia ada di dalam Indonesia bisa didapat seharusnya," kata Laode.

Harun Masiku telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pemulusan proses PAW Anggota DPR oleh KPK. KPK dan Polri masih memburu. KPK juga telah meminta Imigrasi untuk mencegah Harun Masiku pergi ke luar negeri. (Baca juga: Dalami Kasus Suap PAW, KPK Periksa Kepala Sekretariat DPP PDIP).

Diketahui, KPK telah menetapkan mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan sebagai tersangka penerima suap terkait penetapan anggota DPR-RI Terpilih tahun 2019-2024. Selain Wahyu, KPK juga menetapkan tiga orang lainnya sebagai tersangka yakni sebagai penerima mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu yang juga orang kepercayaan Wahyu yakni Agustiani Tio Fridelina, dan sebagai pihak pemberi mantan Caleg dari PDIP Harun Masiku dan pihak swasta Saeful.

Dalam kasus ini, Wahyu meminta kepada caleg PDIP Harun Masiku sebesar Rp900 juta, agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019.



(nth)