alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Waduh! Lulusan SMK Sumbang Pengangguran Terbesar di Jatim

Lukman Hakim
Waduh! Lulusan SMK Sumbang Pengangguran Terbesar di Jatim
Para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), menjadi penyumbang pengangguran terbesar di Jawa Timur. Foto/Ilustrasi

SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat, dalam satu tahun terakhir jumlah pengangguran di Jatim bertambah sebanyak 11,980 orang.

Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), BPS Jatim mencatat mengalami penurunan menjadi 3,99 persen, pada Agustus 2018 atau sebanyak 0,85 juta orang.  

Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,83 persen.

TPT tertinggi berikutnya, terdapat pada Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 6,31 persen. Dengan kata lain, masih terjadi permasalahan titik temu antara tawaran tenaga kerja lulusan SMK/SMA di Jatim, dengan tenaga kerja yang diminta di pasar kerja.

Sebaliknya, TPT terendah terdapat pada pendidikan SD ke bawah sebesar 1,67 persen. Penduduk dengan pendidikan rendah cenderung menerima tawaran pekerjaan apa saja.

"Dibanding Agustus 2017, TPT lulusan Universitas dan SD ke bawah mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 1,18 persen dan 0,01 persen. Sedangkan untuk pendidikan yang lain mengalami penurunan," kata Kepala BPS Jatim, Teguh Pramono, Selasa (8/11/2018).

TPT adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.

TPT Jatim pada Agustus 2018 sebesar 3,99 persen, mengalami penurunan 0,01 persen dibanding TPT Agustus 2017 sebesar 4,00 persen. Berdasarkan daerah tempat tinggal, TPT di daerah perkotaan Jatim lebih tinggi dibanding daerah perdesaannya.

"Pada Agustus 2018, TPT perkotaan sebesar 4,64 persen. Sedangkan TPT perdesaan sebesar 3,31 persen," tandas Teguh.

Di sisi lain, dari seluruh penduduk Jatim yang bekerja pada Agustus 2018, terbanyak bekerja sebagai buruh, karyawan, dan pegawai sebanyak 34,63 persen. Diikuti oleh berusaha dibantu buruh tidak tetap 18,43 persen, dan berusaha sendiri 16,32 persen.

Sementara penduduk yang bekerja dengan status berusaha dibantu buruh, tetap memiliki persentase yang paling kecil, yaitu sebesar 3,45 persen.

Dalam setahun terakhir (Agustus 2017 – Agustus 2018), peningkatan persentase penduduk bekerja terdapat pada status berusaha dibantu buruh tetap 0,01 persen, pekerja keluarga atau tidak dibayar 0,86 persen, dan berusaha dibantu buruh tidak tetap 1,56 persen.

Penurunan terjadi pada status pekerja bebas di pertanian 1,03 persen, berusaha sendiri 0,72 persen, buruh, karyawan, dan pegawai 0,58 persen, dan pekerja bebas di non pertanian 0,10 persen.



(eyt)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif