alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Terapi Gen Ala Mahasiswa FK UMM, untuk Penderita Kanker

Yuswantoro
Terapi Gen Ala Mahasiswa FK UMM, untuk Penderita Kanker
Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memperkenalkan terapi gen bagi penderita kanker. Foto/Ist.

MALANG - Prihatin mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengkaji efektivitas terapi gen.

Dua mahasiswa FK UMM itu adalah Radya Kusuma Ardianto, dan Muhammad Mufti Al Anshori. Mereka melakukan kajian, analisa, dan menulis artikel tentang terapi gen untuk efektivitas penyembuhan penderita kanker.

Kolaborasi mahasiswa semester 3 dan 7 ini mampu menarik perhatian juri kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional, sehingga keduanya memenangkan kompetisi tersebut.

Artikel yang ditulis Radya dan Mufti memenangi ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER), yang digelar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Dijelaskan Radya, di Indonesia sendiri penanganan terhadap pasien kanker hanya kemoterapi saja. Sementara, metode ini memakan biaya yang teramat mahal, karena tidak bisa sekali pengobatan.

Dalam artikelnya itu, Radya dan Mufti memperkenalkan pengobatan dengan terapi gen, yaitu menyuntikan gen P53 yang merupakan ‘malaikat penjaga’ gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungisi secara normal.

"Tidak berfungsinya gen P53, membuat gen tersebut tidak bisa memperbaiki sel-sel yang rusak. Melalui terapi ini, gen P53 pengganti yang disuntikkan bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel rusak," ujarnya.

Untuk mengganti gen P53 ini perlu ‘kendaraan’. Kendaraan yang dikemukakan di artikel ini, menggunakan virus, namanya Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. "Namun yang kita pakai hanya bungkusnya saja, penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu," jelas Radya.

Medis di Indonesia dinilai Radya sudah cukup tertinggal. Di Indonesia pengobatan semacam ini belum diterapkan, atau bisa jadi, masih dalam tahap penelitian.

Ketika di Indonesia masih Symtomatik (bergantung kepada obat), di luar negeri sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya.

"Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini, berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan, meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal," kata Radya.

Radya menambahkan, ketika seseorang terkena kanker, maka daya produktifitasnya menurun sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya.

Ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, maka keluarganya lah yang akan menanggung pengobatannya. Hal ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama.

"Kita harus mulai mengobati pasien dengan sistem holistic-komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai kepada kondisi ekonomi, produktifitas, dan kesehatan pasien. Bukan begitu sembuh langsung beres. Tapi aspek-aspek lain juga harus dipikirkan," pungkas Radya.



(eyt)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif