alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

PDIP: Bersama NU dan Muhammadiyah, Kami Tegaskan Pancasila Sudah Final

SINDONEWS
PDIP: Bersama NU dan Muhammadiyah, Kami Tegaskan Pancasila Sudah Final
Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan, Ahmad Basarah menuturkan siap bekerja sama dengan NU dan Muhammadiyah di dalam menjaga NKRI.Foto/Dok

JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) siap bekerjasama dan mendukung penuh kesepakatan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, menuturkan, PDI Perjuangan siap bekerja sama dengan seluruh keluarga besar NU dan Muhammadiyah di dalam menjaga Pancasila, NKRI, Konstitusi Negara dan Kebhinnekaan Indonesia.

"Kerjasama antara keluarga besar nasionalis dengan Ormas NU dan Muhammadiyah, sudah terjalin sejak lama. Itu bisa dilihat dengan jelas dalam bentang sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Baik NU dan Muhammadiyah memberikan kontribusi nyata dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia," ungkap Basarah dalam siaran pers yang diterima, Jumat (9/11/2018).

Lebih lanjut, Wakil Ketua MPR ini menyebutkan, terbitnya Keppres Hari Santri Nasional Nomor 22/2015 merupakan bukti nyata bahwa negara mengakui peran dan kontribusi ulama dan santri dalam mempertahankan Indonesia.

"Hari Santri Nasional bukan hanya milik NU dan Muhammadiyah semata, melainkan milik umat Islam Indonesia yang mencintai NKRI dan Pancasila," katanya lagi.

Jika memahami dari proses sejarah, Bung Karno yang dikenal sebagai tokoh nasionalis dan Presiden Pertama Republik Indonesia itu juga memiliki hubungan erat dengan tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah. Sebagai contoh, dalam munas alim ulama yang disponsori NU tahun 1954 memberikan gelar Waliyul Amri Bi dharuri Asy-Syaukah, yang artinya pemimpin di masa darurat yang wajib ditaati perintahnya.

"Sejarah juga mencatat bahwa pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan adalah guru dari Bung Karno," terangnya.

Di bagian lain, ditegaskan Basarah, dalam hal Pancasila sebagai dasar negara telah final. Tidak ada lagi keraguan dalam NU dan Muhammadiyah. Pada Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo, NU dengan tegas mengakui Pancasila sebagai asas tunggal.

"Sedangkan Muhammadiyah dalam Muktamar 47 di Makassar tahun 2015 menegaskan bahwa negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah artinya negara perjanjian dan tempat bersaksi," tandasnya.

Selain itu, baik NU dan Muhammadiyah memberikan kontribusi nyata dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad Fii Sabilillah yang dikumandangkan pada 22 Oktober tahun 1945 oleh Kiai Haji Hasyim Asy'ari, kata Basarah, adalah bentuk nyata kontribusi ulama dan santri dalam menjaga keutuhan Indonesia.

Pun dengan Muhammadiyah di era kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo mendirikan Markas Ulama Angkatan Perang Sabil (MU-APS) pada tahun 1948 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari agresi militer Belanda.



(vhs)

Berita Terkait
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif