alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Literasi Perencanaan Keuangan, Gerilya OJK Lindungi Masyarakat

Aan Haryono
Literasi Perencanaan Keuangan, Gerilya OJK Lindungi Masyarakat
Para guru mengikuti literasi perencanaan keuangan yang digelar di SMAN 15 Surabaya. Foto/SINDONews/Aan Haryono

SURABAYA - Literasi perencanaan keuangan menjadi senjata gerilya yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melindungi masyarakat di sektor jasa keuangan. Pondasi-pondasi pun ditanam untuk menunjukkan jalan yang benderang dalam  berinvestasi.

Ketua Asosiasi Guru Ekonomi Indonesia (AGEI) Jatim Budi Hartono datang ke SMAN 15 Surabaya sejak pagi. Bersama puluhan guru ekonomi dari berbagai daerah di Jatim, mereka ingin menyerap banyak literasi baru tentang perencanaan keuangan, Sabtu (10/11/2018)..

Buku tebal beserta dua alat tulis bersandar di mejanya. Pagi yang sejuk di Kota Surabaya, mereka menerobos mimpi di Hari Pahlawan 10 Nopember untuk bisa memberikan peran yang besar bagi guru dan peserta didiknya nanti.

Literasi pengelolaan keuangan menjadi bekal yang ingin disebar para pendidik. Strategi yang dikembangkan pun bisa melengkapi kemampuan mereka dalam mengajar di kelas. Termasuk, keputusan mereka untuk berinvestasi serta memberikan rekomendasi bagi banyak orang untuk memulai perencanaan keuangan yang aman.

“Sejak di hulu, kami ingin memahami alur yang tepat tentang industri jasa keuangan serta perlindungan yang bisa diperoleh sejak dini,” ujar Budi.

Kepala Kantor OJK Regional 4 Jawa Timur Heru Cahyono menuturkan, penebaran jaring literasi perencanaan keuangan memang menjadi senjata mujarab bagi masyarakat. Pihaknya ingin melindungi masyarakat di sektor jasa keuangan. Termasuk mereka yang bermain di pasar modal, pegadaian, asuransi, dana pensiun, maupun  BPJS.

Selama ini, lembaga keuangan di Indonesia menjalankan bisnis atas dasar kepercayaan. Masyarakat pun sudah bertahun-tahun yang lalu memahami dasa kepercayaan itu sebagai modal utama.

“Kami melakukan pengaturan terhadap jasa industri keuangan. Makanya bertugas melindungi masyarakat dari kemungkinan kerugian dari jasa keuangan itu. Salah satunya lewat literasi ini,” ucapnya.

OJK, katanya, juga memiliki fungsi edukasi yang bisa terus dikembangkan di masyarakat. Pihaknya selalu hadir di lapisan masyarakat yang menjadi pedoman bagi mereka sebelum menempatkan dana.

“Yang terpenting masyarakat bisa paham manfaat dan risikonya. Kami bisa melakuka perlindungan itu,” jelasnya.

Saat ini, katanya, banyak iming-iming yang diberikan pada masyarakat  tentang pengembalian keuntungan tiap bulan yang cukup tinggi dari lembaga pembiayaan.  Bahkan, ada yang sampai memberikan keuntungan 10% tiap bulannya.

“Tetap harus diwaspadai. Jangan sampai tertipu penawaran seperti itu. Ada dua hal yang paling penting, tinggal dilihat saja hasil yang diberikan itu wajar apa tidak. Kemudian bisa dicek legalitasnya pada OJK, termasuk lembaga itu memiliki izin tidak,” tegasnya.

Saat ini, katanya, di tengah kompetisi global dan inovasi produk dan jasa keuangan yang berkembang pesat, generasi muda perlu melek perencanaan keuangan. Di sini peran krusial peran guru untuk turut serta memberi pemahaman sejak dini kepada murid-muridnya.

“Dengan memiliki literasi perencanaan keuangan yang baik, kita harapkan masyarakat di Surabaya dapat mengelola keuangannya dengan bijaksana, sehingga kondisi ekonomi mereka tetap baik dan biaya pendidikan untuk putra-putri mereka tidak terganggu,” katanya.

OJK sendiri mencatat, hingga akhir 2017, indeks literasi asuransi di Indonesia baru mencapai 15,76 %, turun dari survei 2013 yang berada pada angka 17,84 %. Rendahnya tingkat literasi ini berdampak kepada masih banyaknya penduduk Indonesia yang tidak terlindungi asuransi.

Direktur Utama Bhinneka Life Wiroyo Karsono mengatakan, kegiatan literasi bagi guru ekonomi di Jatim menjadi bentuk kepedulian sosial untuk mendukung program OJK  dalam meningkatkan literasi keuangan.

“Guru tentu mempunyai peran penting sebagai pendidik generasi masa depan, sehingga mengajak peran serta para guru mata pelajaran ekonomi merupakan langkah yang tepat dalam upaya mempercepat pemahaman masyarakat terhadap literasi perencanaan keuangan yang saat ini masih rendah,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, para guru diharapkan dapat menyebarluaskan materi literasi kepada para peserta didiknya. Sehingga sejak dini mereka memiliki pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang baik dan terencana.

Menurut data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dari total penduduk Indonesia sekitar 255 juta jiwa, baru sekitar 7,5 % masyarakat yang memiliki asuransi. Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, sebagai salah satu pusat perdagangan di Indonesia, Jawa Timur memiliki potensi perekonomian yang sangat tinggi.

Dengan jumlah populasi mencapai sekitar 39,3 juta jiwa, pada 2017 lalu pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sebesar 5,45 %, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,07 %.



(msd)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif