alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Semua Lokalisasi Tutup Namun Prostitusi Online Tetap Ramai

Aan Haryono
Semua Lokalisasi Tutup Namun Prostitusi Online Tetap Ramai
Suasana di Gang Dolly, prostitusi terbesar di Asia Tenggara sebelum ditutup. Foto/dok

SURABAYA - Selama dua periode memerintah di Kota Pahlawan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menutup semua lokalisasi legendaris yang ada di Surabaya. Ribuan pekerja seks komersial (PSK) dan para mucikari dialihkan profesinya sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Penutupan lokalisasi seperi Dolly, Moroseneng, Dupak Bangunrejo, dan Tambak Asri tak sepenuhnya menutup ceruk praktik prostitusi di Surabaya. Ada PSK yang sudah bisa beralih profesi menjadi pelaku UMKM, namun banyak juga yang tetap beroperasi di luar, dari kendali transaksi online yang membuka jasa di beberapa hotel di Surabaya.

Lokalisasi Dolly masih menjadi pandora untuk melihat jejak prostitusi di Surabaya. Lokalisasi yang terkenal besar di Asia Tenggara ini memang sudah ditutup secara resmi sejak 2014. Namun, transaksi seksual masih terlihat, tentu dengan jalan senyap yang dilakukan para calo.



Saat malam menjelang, di sela rintik hujan deras yang sempat mengguyur Surabaya selepas maghrib, deretan wisma yang gelap dan terkunci rapat terasa hening di eks lokalisasi Dolly. Sesekali, di ujung gang muncul dua pria yang mengenakan jaket untuk menawarkan jasa para PSK.

Mereka memang tak lagi bergerombol seperti dulu yang di tiap depan wisma menawarkan para PSK. Kini, dalam operasi senyap itu mereka duduk santai sembari bercanda dengan temannya yang lain.

“Ada yang cantik, tarif masih pakai lama,” kata seorang pria yang memakai jaket tebal dengan topi hitam pada pengendara sepeda motor yang melintas.

Tawaran itu tak digubris oleh para pengguna jalan yang masih sepi ketika pukul 22.00 WIB. Ia pun tak putus asa. Kursi plastik yang ada tepat di depan kaca wisma kembali diduduki. Dengan sabar dan awas, ia terus memandang ke tiap pengendara yang melintas. Baru jelang pukul 23.00 WIB, ada seorang penguna sepeda motor yang berhenti di depannya. Percakapan dimulai dengan aksi saling tawar menawar terjadi.

Diskusi antar keduanya mulai terlihat renyah ketika sudah ada kesepakatan harga. Si calo kini mulai sibuk memainkan tombol ponsel. Sementara pria hidung belang tetap duduk di atas motor sambil menunggu perintah dari si calo. “Ikuti saja sepedaku, nanti langsung ketemu,” ujarnya pada lelaki hidung belang yang mengendarai sepeda motor dengan plat nomor luar Surabaya.

Mereka berdua mengendarai sepeda motornya masing-masing. Kendaraan itu dipacu dengan kencang ke arah Dukuh Pakis. Tepat di gang VI, di bawah pohon mangga yang rindang, dua perempuan dengan pakaian ketat sudah menunggu. Satu perempuan masih terlihat muda, sementara satunya lagi sudah paruh baya.

Setelah diperlihatkan, lelaki hidung belang menyatakan ketertarikan. Sejumlah uang langsung diberikan pada mucikari yang kini selalu menemani anak buahnya. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka berempat langsung mencari hotel melati yang berada di dekat Pasar Kembang.

PSK dan mucikari dibonceng oleh si calo yang kini berubah fungsi menjadi tukang ojek. Sementara pria hidung belang berangkat lebih dulu untuk membooking kamar.

Setelah sampai di hotel, mucikari dan tukang ojek menunggu di luar. Sementara PSK yang dipesan langsung masuk ke kamar hotel yang sudah disewa oleh pria hidung belang.

Selain menjaring para pelanggan dari pinggir jalan, berjualan lewat media sosial juga menjadi ladang renyah bagi para mucikari. Mereka memiliki grup di jejaring sosial Facebook, Instagram maupun WhatsApp. Mereka pun berhati-hati dalam menawarkan, termasuk pada anggota baru yang belum jelas identitasnya.

Fenny, salah satu PSK menuturkan, orang yang terjaring di media sosial merupakan pelanggan baru. Makanya ketika awal berkomunikasi belum bisa langsung booking. Biasanya diawali dengan percakapan erotis atau sekedar menjadi teman ngobrol via telepon di malam hari. Setelah benar-benar yakin, maka transaksi seksual bisa dilakukan.

Perempuan yang memiliki rambut sebahu itu menjelaskan, biasanya pertemuan dilakukan di hotel ataupun di mall yang ada di Surabaya. Penentuan hotel sendiri bisa dilakukan oleh pelanggan. Kalau pun tak punya referensi hotel, dirinya sudah memiliki beberapa daftar hotel mulai dari kelas melati sampai berbintang sebagai tempat indehoi.

“Sering juga kok dilakukan di hotel bintang empat. Tergantung pelanggannya sih. Kalau hotel bintang empat enak, tak takut kalau ada razia atau kejadian yang tak menyenangkan,” katanya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, pihaknya terus melakukan operasi yustisi yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)Kota Surabaya. upaya pencegahan ini dilakukan untuk menghindari adanya praktik prostitusi serta keterlibatan anak-anak di dalamnya.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto menjelaskan, pihaknya terus melakukan operasi yustisi yang melibatkan tim Asuhan Rembulan. Mereka menyebar ke berbagai wilayah sampai dini hari untuk memantau dan terus mencari praktik prostitusi, kejahatan,maupun aktifitas anak yang menyimpang.

“Kami terus mempelajari perubahan, kebiasaan baru serta pemetaan wilayah. Banyak tim kami yang disebar,” katanya



(msd)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif