alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ketika Enam Perempuan Cantik Menggugat Narasi Tunggal

Yuswantoro
Ketika Enam Perempuan Cantik Menggugat Narasi Tunggal
Orasi budaya disampaikan pendiri Malang Women Writers Society (MAWWS), Aquarina Kharisma Sari. Foto/SINDOnews/Yuswantoro

"Rupanya mereka ini babu-babu komplek. Mereka mengenakan kebaya dan kain batik yang 'ndeso'. Sementara para majikannya mengenakan pakaian gaya barat,"

Sebuah cerita dari salah satu adegan dari film berjudul "Inem Pelayan Seksi", yang menjadi film terlaris di Jakarta, pada tahun 1977-1978, diungkap Aquarina Kharisma Sari dalam orasi budayanya.

Orasi budaya itu, menjadi pembuka dalam acara peluncuran Malang Women Writers' Society (MAWWS) di Toko Buku Togamas, Kota Malang. Ada enam penulis perempuan yang tergabung dalam kelompok penulis perempuan tersebut.



Aquarina, seolah sengaja menghadirkan petilan-petilan adegan film karya Nya' Abbas Akup tersebut, karena dinilainya sarat dengan kritik sosial yang tajam.

Sayangnya, bukan kritikan-kritikan sosial itu yang membekas dalam benak para penontonnya. Melainkan citra tentang tokoh-tokohnya.

"Film seperti ini bagian dari suatu narasi, dan terus diulang-ulang hingga menjadi stereotip tentang orang Jawa, di tahun-tahun itu yang sangat lugu dan 'Ndeso'," tuturnya.

Ketika Enam Perempuan Cantik Menggugat Narasi Tunggal

Orang-orang 'Ndeso' itu, dikelompokkan dalam masyarakat kelas bawah. Gambaran tradisional dipertontonkan melalui pakaian, khas dengan kemiskinan dan erotisme.

Saat seorang babu bernama Inem itu akhirnya menikah dengan Pak Bos yang kaya raya, terjadi transformasi dalam diri Inem. Dia mengenakan pakaian ala barat, sebagai simbol modernitas.

"Sadarkan kita, bahwa narasi-narasi tunggal seperti itu tidak hanya mendehumanisasi perempuan. Namun juga merendahkan masyarakat dan kultur keseluruhan yang menjadi latar seluruh narasi," tuturnya.

Narasi tunggal tentang perempuan Jawa, menurutnya akan menciptakan narasi tunggal tentang kultur Jawa, dan Negara Indonesia.

"Narasi perempuan Jawa, yang miskin, yang dilecehkan tetangganya, tak bisa berbuat apa-apa, lalu mati, akan menimbulkan narasi tunggal bahwa Indonesia negara yang kacau, miskin, dan tanpa penegakkan hukum," lanjutnya.

Menurutnya, narasi-narasi tunggal ini harus dihentikan. Bagi WAMMS, narasi itu penting. Ada narasi yang tekah dipakai untuk merampas dan menghancurkan. Tetapi, juga ada narasi yang menguatkan.

"Narasi bisa menguatkan nilai-nilai kemanusiaan. Narasi bisa digunakan untuk merusak martabat manusia, namun narasi juga bisa memperbaiki martabat yang rusak," tegasnya.

Kelahiran WAMMS, yang berisikan enam perempuan cantik, yakni Aquarina Kharisma Sari, Dika Sri Pandanari, Firdausya Irana, Eva Ria Fransiska, Fitrahayunitisna, dan Istie Hasan, salah satunya adalah untuk membangun narasi yang lain sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan.

"WAMMS menjadi ruang belajar bersama tentang nilai-nilai kemanusiaan melalui narasi yang beragam. Tidak lagi menggunakan narasi tunggal yang tidak bisa didialogkan secara sehat," tuturnya.

Ketika Enam Perempuan Cantik Menggugat Narasi Tunggal

Guru besar sastra Universitas Negeri Malang (UM), Djoko Saryono yang turut hadir dalam peluncuran WAMMS mengatakan, kehadiran kelompok penulis perempuan ini menjadi ruang kiprah bersama yang tidak boleh eksklusif.

"Ruang belajar bersama yang harus selalu terbuka, dan berdialektika dengan persoalan-persoalan di lingkungannya. Sehingga, kehadirannya bisa membangun peradaban kemanusiaan," tegasnya.

WAMMS, menurutnya menjadi ruang kiprah bagi perempuan yang tidak mudah terbakar. Membangun kepribadian, mentalitas, dan nalar keibuan, sehingga tidak lagi peran perempuan di sektor publik.

"Jauh sebelum masa kolonialisme dan imperialisme. Perempuan Nusantara, banyak mengambil peran di sektor publik. Bahkan di masa Majapahit, ada Tribuana Tungga Dewi yang mampu menjadi pemimpin dan penjaga keutuhan bangsa," pungkasnya.



(eyt)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif