alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

2 Anak Dijadikan Terapis, Miracle Digerebek Polrestabes Surabaya

Lukman Hakim
2 Anak Dijadikan Terapis, Miracle Digerebek Polrestabes Surabaya
Para terapis yang masih berusia anak-anak, diamankan di Polrestabes Surabaya. Foto/SINDOnews/Lukman Hakim

SURABAYA - Unit Perlindungan Perempuan dan anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya, pada Rabu (13/2/2019 sekitar pukul 18.00 WIB menggerebek sebuah panti pijat.

Panti pijat tersebut, diketahui bernama Miracle Spa and Massage, yang berada di komplek Apartemen Metropolis di Jalan Tenggilis, Kota Surabaya.

Hasilnya sangat mengejutkan. Polisi menemukan sebanyak enam pemijat atau terapis, di mana dua di antaranya masih berusia anak-anak.



Saat penggerebekan, polisi mendapati seorang pemijat sedang memberi layanan plus-plus pada tamu. Saat itu juga, polisi langsung mengamankan pemilik Miracle Spa and Massage, Indrawan Yudha (35), warga Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya.

Dalam perkara ini, polisi menetapkan Indrawan Yudha sebagai tersangka. Sementara keenam pemijat berstatus saksi. Semua terapis tersebut, merupakan warga Kota Surabaya.
 
Mereka di antaranya, DV (19) warga Jalan Kalijudan, AR (19) warga Jalan Karang Gayam, HA (20) Jalan Mulyorejo, dan MV (19) Jalan Sawentar. Sementara dua pemijat yang masih anak-anak adalah FA (17) warga Kalijudan, dan RR (17) warga Jalan Kalilom.

"Tersangka dalam praktiknya menyediakan dua paket pijat. Yaitu pijat tradisional dan pijat vitalitas. Namun, saat proses pijat ada layanan plus-plus yang ditawarkan. Dan itu kesepakatan antara pemijat dengan tamu," katan Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni, Kamis (14/2/2019).
 
Tersangka, lanjut dia, merekrut korban untuk dijadikan pemijat atau terapis dengan menawarkan gaji selama satu bulan, yakni sebesar Rp1 juta. Gaji itu sudah termasuk makan dan transportasi. Tersangka juga menjanjikan insentif 25 persen, dari hasil uang yang diberikan tamu pijat.

Parahnyan usaha dari tersangka ini tidak mengantongi izin berupa Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP). Tenaga terapis juga tidak memiliki sertifikat keahlian memijat. "Usaha yang didirikan tersangka ini sudah berjalan satu bulan," tandas Ruth Yeni.
 
Sementara itu, Indrawan Yudha mengaku tertarik menggeluti bisnis terapis ini lantaran tergiur dengan keuntungan yang tinggi. Dalam sehari, dia bisa mengantongi pendapatan minimal Rp1 juta.

Ayah tiga anak ini mengaku, kalau keluarganya mengetahui bahwa dirinya memiliki usaha pijat. Tapi mereka tidak mengetahui adanya layanan plus-plus.

"Saya membuka usaha pijat ini hanya sampingan. Selebihnya saya punya usaha jual beli perangkat komputer," terangnya.
 
Dalam perkara ini, tersangka dijerat Pasal 2 ayat 1 junto Pasal 17 UU No. 21/2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Tersangka juga dijerat Pasal 296 dan 506 KUHP tentang mucikari.



(eyt)

loading...